france troopBangui, LiputanIslam.com — Abayomi Azikiwe, Direktur Pan-African News Wire, seorang komentator politik,  dalam wawancaranya dengan Channel Berita Press TV, Selasa (11/3) mengungkapkan bahwa campur tangan asing selama ini di Republik Afrika Tengah justru telah meningkatkan kekerasan di negara tersebut.

“Justru dengan adanya sejumlah besar tentara Perancis dan berbagai campur tangan asing seperti ini, kita dengan jelas melihat betapa konflik-konflik justru bertambah,” ucap Azikiwe setelah sebelumnya menerangkan sejarah panjang kerukunan beragama yang selama ini terbangun di negara Afrika Tengah tersebut.

Azikiwe lebih lanjut menekankan tentang pentingnya “solusi politik domestik” guna mengakhiri kekerasan di sana. Menurutnya campur tangan asing sebenarnya hanya bertujuan untuk mengeksploitasi kekayaan alam Republik Afrika Tengah.

“Saya percaya bahwa Perancis dan juga Amerika Serikat, termasuk Kanada, ingin memperluas dan mengintensifkan eksploitasi pada daerah sumber mineral ini,” tambahnya.

Afrika Tengah menghadapi kekerasan mematikan sejak Desember 2013, saat kelompok bersenjata Kristen melakukan penyerangan terhadap kelompok Muslim Seleka yang dituduh hendak menggulingkan pemerintahan pada bulan Maret 2013.

Sekitar 2.000 Pasukan Perancis, didukung 6.000 pasukan Uni-Afrika disiagakan di tempat terjadinya konflik, namun sejauh ini gagal mengendalikan situasi.

Pada 11 Maret, pejabat UNHCR mengatakan bahwa kekerasan yang berlangsung telah memaksa kaum muslimin untuk melarikan diri ke wilayah barat negeri itu.

Dalam laporan serupa bulan ini, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat Valerie Amos mengatakan hampir semua dari 100.000 atau lebih orang-orang Muslim yang tinggal di ibukota Afrika Tengah, Bangui, telah melarikan diri dari aksi kekerasan yang dilakukan oleh milisi Kristen.(lb/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*