ebola nurseWashington, LiputanIslam.com — Seorang perawat yang dikarantina di New Jersey setelah menangani para penderita virus ebola di Afrika Barat, menyatakan akan melakukan gugatan hukum atas pengisolasian dirinya.

Kaci Hickox, nama perawat itu, mengaku merasa diperlakukan seperti tahanan kriminal sepulangnya dari tugasnya di Siera Leone hari Jumat (24/10). Pengacaranya menyebut bahwa kasus ini telah mengundang perhatian atas “isu-isu kebebasan sipil dan konstitusi yang serius”. Demikian laporan BBC, Senin (27/10).

Pemerintah federal AS dan Walikota New York juga telah menyatakan keprihatinannya atas aturan ketat tentang karantina di beberapa negara bagian AS.

Peraturan baru di New York, New Jersey dan Illinois mewajibkan orang-orang yang baru kembali dari Afrika Barat dan telah mengadakan kontak dengan penderita virus ebola, untuk menjalani karantina selama 3 minggu.

Pada hari Minggu (26/10), Gubernur New York Andrew Cuomo mengumumkan rencana pengurangan pembatasan bagi terduga penderita virus ebola di wilayahnya. Dengan aturan baru itu, terduga penderita virus ebola yang kembali ke AS dan tidak menunjukkan tanda-tanda terjangkit, bisa kembali ke keluarganya dan hanya perlu menjalani pengawasan 2 kali sehari. Selain itu, kompensasi juga diberikan kepada mereka yang menjalani karantina.

Governor Cuomo mengatakan kepada media massa bahwa dirinya menginginkan para pekerja medis untuk lebih bersemangat untuk pergi ke wilayah yang terserang wabah.

Dubes AS untuk PBB, Samantha Power, yang tengah mengadakan kunjungan di 3 negara Afrika Barat yang terkena wabah, mengatakan bahwa semua pekerja kesehatan AS yang kembali dari wilayah terserang wabah, harus diberlakukan seperti pahlawan dan bukannya melakukan stigmatisasi negatif kepada mereka.

Laporan terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa jumlah penderita virus ebola sejak merebak bulan Maret lalu, telah menembus angka 10.000 dengan 4.922 kematian. Selain 27 kasus, semua penderita ebola itu berada di Sierra Leone, Liberia dan Guinea, tiga negara Afrika Barat yang paling parah terkena wabah.

Hickox yang bekerja untuk LSM Doctors Without Borders, menyebutkan pengalamannya dikarantina sebagai hal yang “menakutkan” dan “hiruk-pikuk yang membingungkan”

Pengacara Hickox, Norman Siegel, mengatakan bahwa kliennya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit dan tidak pernah dinyatakan positif menyandang virus.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL