Malé, LiputanIslam.com—Pejabat dari partai oposisi Maladewa memprotes rencana Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz untuk membeli pulau-pulau mereka.

“Kami menyatakan secara jelas kepada pemerintah Saudi bahwa kami menolak menjual tanah kami,” kata mantan Menlu Maladewa dan anggota Maldives United Opposition (MUO), Ahmed Naseem, kepada para wartawan di kota Colombo, Sri Lanka, Jumat (10/03/2017).

Naseem memperingatkan bahwa akan ada demonstrasi besar-besaran di ibukota Malé melawan perjanjian kontroversial senilai milyran dollar tersebut.

Ia memberikan penjelasan lebih lanjut terkait laporan bahwa pemerintah Riyadh atau pengusaha Saudi membeli atol Faafu yang terdiri dari 28 pulau koral kecil dengan harga $10 milyar.

Pada Rabu lalu, pemimpin MOU Shifa Mohamed juga menyatakan bahwa koalisi mereka akan “melakukan apapun” di wilayah domestik hingga internasional  untuk “melawan  penjualan atol Faafu atau bagian apapun dari kawasan tersebut.”

Komentar Mohamed dilayangkan sehari setelah pemerintah Presiden Abdulla Yameen Abdul Gayoom menolak laporan tentang penjualan itu.

Alih-alih menjual, pemerintah Maladewa mengaku bekerjasama dengan sejumlah investor untuk mengembangkan kawasan Faafu yang akan memberikan manfaat untuk negara.

Pemimpin MUO dan partai oposisi pemerintah, Partai Demokrat Maladewa (MDP) menuduh pemerintah menekan aktivis oposisi menjelang kedatangan Raja Salman. Sang raja tengah menjalani tur di enam negara Asia, dimulai dari Malaysia dan kini di Indonesia.

Raja Salman akan melajutkan kunjungan ke Brunei, Cina, Jepang dan mengakhiri di Maladewa.

Anggota MDP memperingatkan bahwa penjualan pulau-pulau Maladewa oleh pemerintah akan memperparah penyebaran paham Wahabisme di negara tersebut. Dari sisi jumlah penduduk, Maladewa adalah negara pemasok serdadu asing terbesar untuk ISIS. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL