Jordan_parliament1Amman, LiputanIslam.com — Majelis Rendah Jordania, Rabu (12/3), meminta pemerintah mengusir duta besar Israel di Amman dan menarik duta besar Yordania di Israel, sebagai protes terhadap pembunuhan seorang hakim Yordania oleh tentara Israel, demikian laporan media lokal.

Majelis Rendah menyatakan jika pemerintah gagal memenuhi tuntutannya pada sidang berikutnya pada Selasa depan, Majelis tersebut akan melakukan pemungutan suara dalam mosi tak percaya terhadap Perdana Menteri Abdullan Ensour.

Menurut undang-undang dasar Jordania, jika mayoritas anggota Majelis Rendah memberi suara yang mendukung mosi tak percaya, maka pemerintah –perdana menteri dan semua menteri lain– secara otomatis akan dipecat.

Ra’ed Zeiter, hakim Jordania yang berusia 38 tahun, sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi keluarga Palestinanya di Nablus pada Senin (10/3), ketika ia ditembak hingga tewas oleh tentara Israel di terminal Jembatan Allenby –yang menghubungkan Jordania dan Tepi Barat Sungai Jordan.

Pada Selasa pagi, perdana menteri Jordania itu mengatakan Pemerintah Israel bertanggung-jawab atas pembunuhan Zeiter. Kantor perdana menteri Israel menyatakan kantor tersebut menyesalkan tewasnya hakim itu.

“Pemerintah Jordania menganggap Pemerintah Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas kejahatan keji ini,” kata Ensour dalam satu pertemuan di parlemen.

Ia menyatakan Israel setuju untuk membentuk satu komite bersama dengan Jordania guna melakukan penyelidikan mengenai pembunuhan hakim tersebut. Ia mengatakan reaksi Jordania atas peristiwa itu akan tergantung atas hasil penyelidikan tersebut.

Perdana Menteri itu menambahkan “alasan Israel tidak bisa membenarkan” pembunuhan hakim tersebut

Laporan yang bertentangan mengenai peristiwa tersebut telah memicu ketegangan antara Jordania dan Israel.

Pasukan Pertahanan Israel pada Selasa menyatakan Zeiter “berusaha merampas senjata seorang tentara” dan tentara itu “merasa nyawanya terancam”.

Zeiter mula-mula ditembak di tubuh bagian bawah lalu ditembak lagi setelah ia diduga “menyerang seorang prajurit dengan menggunakan potongan besi”.

Namun media Jordania, dengan mengutip seorang saksi mata, melaporkan seorang tentara mendorong Zeiter, sehingga mengakibatkan pertengkaran yang berakhir dengan dibunuhnya Zeiter akibat tembakan tentara itu. Saksi mata tersebut mengatakan Zeiter tak pernah berusaha mencuri senjata tentara Israel.

Protes mengenai kejadian tersebut berlangsung di Jordania. Pemrotes bahkan menyerukan dibatalkannya kesepakatan perdamaian 1992 antara Israel dan Jordania.(ca/republika.co.id)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*