pemberontak burundiBujumbura, LiputanIslam.com — Delapan belas orang diadili di pengadilan Burundi karena tuduhan turut mengorganisir upaya kudeta yang gagal terhadap Presiden Pierre Nkurunziza. Sementara penangkapan-penangkapan masih dilakukan terhadap para pendukung kudeta. Demikian BBC News melaporkan, Sabtu (16/5).

Namun pemimpin kudeta, mantan kepala inteligen Mayjend Godefroid Niyombare, masih belum diketahui keberadaannya. Sementara itu sebuah rumah sakit tempat para pemberontak yang terluka dirawat, diserang oleh para pendukung presiden.

Hari Sabtu Presiden Nkurunziza memuji militer atas perannya dalam menggagalkan upaya kudeta dan meredakan kerusuhan yang melanda ibukota Bujumbura.

Mereka yang dibawa ke pengadilan termasuk Menhan Jendral Cyrille Ndayirukiye dan komandan kepolisian Komisaris Zenon Ndabaneze dan Komisaris Hermenegilde Nimenya. Demikian seperti diungkapkan pengacara Anatole Miburo kepada AFP.

Miburo mengatakan para terdakwa itu menderita luka-luka karena pemukulan, terutama Jendral Ndayirukiye. Sedangkan keluarga salah satu terdakwa mengatakan saudara mereka kehilangan pendengaran karena penyiksaan di dalam sel tahanan.

Wartawan BBC di Burundi, Karen Allen, melaporkan tiga orang tentara pemberontak yang terluka telah diseret dari sebuah rumah sakit yang merawatnya di Bujumbura. Sedangkan seorang tentara lainnya tewas karena luka-luka yang dideritanya.

Para pemberontak melancarkan aksi kudetanya hari Rabu (13/5) pada saat Presiden Nkurunziza tengah berada di Tanzania, menyusul aksi-aksi kerusuhan yang dipicu oleh keputusan presiden untuk maju ke dalam pemilihan presiden bulan Juni mendatang. Hal ini dianggap melanggar konstitusi yang membatasi kekuasaan presiden hanya sampai 2 periode. Sementara presiden dan pendukungnya berdalih ia baru sekali menjabat sebagai presiden terpilih.

Pada hari Jumat Nkurunziza kembali ke Burundi di kota asalnya, Ngozi, sebelum melanjutkan ke Bujumbura.

Keamanan masih sangat ketat di ibukota dimana tentara dan polisi masih berpatroli dijalanan sementara media-media massa swasta telah dibekukan operasinya. Di sisi lain muncul kekhawatiran di tengah masyarakat termasuk dunia internasional bahwa kudeta gagal ini akan memicu kembali konflik sektarian yang berlangsung selama 12 tahun hingga tahun 2005.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL