Barak Obama-United States-PoliticsLos Angeles, LiputanIslam.com — Para pemimpin masyarakat keturunan Latin (Latino) AS kecewa terhadap Presiden Barack Obama setelah pada hari Sabtu (6/9) lalu, Obama membatalkan rencana reformasi UU Imigrasi.

Dilaporkan oleh BBC News, Minggu (7/9), para pemimpin Latino dan aktifis pembela imigran merasa telah dikhianati oleh Obama dengan pembatalan itu.

Pada hari Sabtu, Obama memberikan tekanan kepada Partai Demokrat untuk menunda pembahasan tentang isu imigrasi hingga bulan November mendatang, setelah para pemimpin Latino menyerukan keprihatinan mereka bahwa perhatian Obama yang terlalu besar terhadap masalah politik akan mengurangi kesempatan Partai Demokrat untuk menguasai Senat.

Para aktifis pembela imigran dan pemimpin Latino menyebut keputusan Obama itu sebagai pelecehan terhadap keluarga-keluarga imigan dan menuduh Obama mengabaikan reformasi demi politik.

“Pengumuman itu adalah sangat memalukan dan sekali lagi menunjukkan bahwa bagi Obama, politik lebih penting daripada nasib warga Latino,” kata Arturo Carmona, direktur kelompok masyarakt Latino yang berbasis di Los Angeles, Presente.org.

Ia menyebut bahwa Obama telah memberikan harapan besar bagi jutaan masyarakat Latino di seluruh negeri, namun kemudian menghancurkan harapan itu hanya demi keuntungan politik sesaat.

Dalam pidato yang disampaikan Obama pada acara pawai bunga “Rose Garden” di Pasadena-California bulan Juni lalu, Obama berjanji akan mengeluarkan “executive order” tentang UU Keimigrasian jika sampai akhir musim panas, legislatif (Congress) gagal mereformasi UU Imigrasi.

“Perjuangan kami tidak memberikan janji reformasi, kami hanya bersalah karena mempercayai janji itu,” kata Frank Sharry, Direktur America’s Voice dan aktifis pembela kaum imigran.

Dalam wawancara di acara “Meet the Press” di televisi NBC, Minggu (7/9), Obama membela keputusannya untuk menunda pembahasan isu imigrasi. Ia juga berjanji akan menuntaskan masalah ini sebelum akhir tahun ini.

“Menunggu selama 9 minggu lagi berarti saya harus melihat ibu saya ketakutan harus hidup di bawah ancaman dideportasi setiap hari,” kata Cristina Jimenez, Direktur kelompok pembela warga imigran United We Dream.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL