williamsTokyo, LiputanIslam.com — Salah satu pewaris tahta Kerajaan Inggris, Pangeran Williams, menemui para korban tsunami Jepang tahun 2011, dalam kunjungannya ke negeri matahari itu.

Sebagai bagian dari kunjungan ke Jepang dan Cina, Pangeran William mengunjungi pantai kawasan timur-laut Jepang dimana ribuan orang menjadi korban tsunami yang dipicu oleh gempa bumi. Demikian seperti dilansir BBC News, Minggu (1/3).

Di kota Ishinomaki, Williams bertemu Hiroyuki Takeuchi, jurnalis harian Ishinomaki. Koran ini menerbitkan edisi tulisan tangan selama beberapa hari setelah terjadinya bencana, karena tidak adanya sumber energi yang tersedia.

Kepada Ishinomaki, Williams mengatakan bahwa setiap korban bencana akan mengingat dimana ia berada saat musibah itu datang.

“Ingatan itu akan tinggal bersamamu selamanya. Anda akan mengingat jelas dimana Anda berada saat itu. Hal itu tentu saja menjadi kesedihan yang tidak terbayangkan bagi Anda dan yang lain-lainnya,” katanya.

Kepada William, Takeuchi mengatakan bahwa suasana seperti di dalam neraka, ketika ribuan mayat bergelimpangan di mana-mana.

“Ini seperti kenangan yang baru saja terjadi,” kata Takeuchi.

Tsunami yang menghantam Jepang itu dipicu oleh gempa bumi berkekuatan 9 skala richer. Akibat tsunami itu sekitar 19.000 orang dinyatakan meninggal dunia. Selain itu, gempat bumi dan tsunami juga memicu terjadinya kebocoran reaktor nuklir.

Di Ishinomaki yang terletak 350 km timur-laut Tokyo, sekitar 3.000 orang dinyatakan tewas dan lebih dari 40.000 bangunan hancur. Di sisi lain, akibat gempa tersebut dataran Jepang bergeser 6 meter ke Samudra Pasifik, mengakibatkan kota Ishinomaki tenggelam sedalam 70 cm.

William bertemu Takeuchi di sebuah museum kecil yang didirikan untuk mengenang bencana itu. Di museum itu juga dipajang edisi tulisan tangan koran Ishinomaki.

“Tsunami itu menghancurkan kantor kami. Namun kami menemukan kertas cetak yang secara ajaib masih tetap kering, dan kami menuliskan dengan tangan berita musibah itu di atasnya,” kata Takeuchi.

Menurut Takeuchi, ia dan teman-temannya hanya mencetak 6 lembar koran tulisan tangan setiap hari dan menempelkannya di pusat-pusat penampungan pengungsi.

“Kami merasa bahwa selama masih ada pena dan kertas, kami bisa mengirimkan berita-berita, dan itulah tugas kami sebagai media massa. Beruntungnya di antara pegawai kami tidak ada yang meninggal,” katanya lagi kepada Williams.

Pada hari Senin (2/3) Pangeran Williams dijadwalkan terbang ke Cina.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*