A pro-Russian separatist guards a checkpoint as tyres burn behind him, near the town of SlavianskLiputanIslam.com — Sudah lebih dari sebulan Ukraina melancarkan operasi militer besar-besaran untuk menundukkan kelompok-kelompok separatis di 2 provinsi yang melepaskan diri, Donetsk dan Luhansk. Ratusan korban telah jatuh di kedua belah pihak.

Namun Ukraina seperti tidak mendapatkan kemajuan apapun. Yang terdengar justru bencana demi bencana yang dialami militer Ukraina. Setidaknya 2 helikopter militer dan sebuah pesawat pengangkut pasukan Ukraina ditembak jatuh dengan korban puluhan personil militer terbaik mereka.

Jatuhnya 2 helikopter dan pesawat pengangkut dalam selang waktu yang tidak terlalu lama membuka mata semua orang bahwa konflik di Ukraina telah berubah menjadi konflik internasional dan “kualitas” yang jauh lebih tinggi dari sebuah konflik domestik di dalam negeri. Rudal-rudal anti-pesawat yang digunakan para separatis Ukraina timur itu membuktikan bahwa Rusia telah terlibat cukup jauh dalam konflik, karena tidak mungkin para separatis itu memiliki senjata-senjata canggih, kecuali dari Rusia.

Tidak mengagetkan jika kemudian, pada tanggal 23 Juni lalu pemerintah Ukraina setuju untuk menggelar gencatan senjata yang dilanjutkan dengan pembicaraan damai.

Setiap kali militer Ukraina melakukan serangan udara atau artileri ke sebuah kota di wilayah separatis, Ukraina semakin kehilangan dukungan moril dari penduduk setempat. Sebaliknya dukungan kepada Rusia justru sekamin kuat. Semakin banyak serangan dilakukan Ukraina, semakin besar harapan rakyat Ukraina timur bahwa Rusia akan menyelamatkan mereka.

Namun banyak yang bertanya-tanya, mengapa Rusia belum maju ke depan dan menyerang Ukraina?

Rusia memang belum melihat perlu melakukan hal itu, selama dukungan moril warga Ukraina timur masih terus bertambah kepadanya tanpa harus mengeluarkan satu tembakanpun.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko baru-baru ini mengatakan bahwa “Ukraina berada dalam keadaan perang”, dan itu tak berlebihan. Pertempuran sengit militer sedang berlangsung di seluruh wilayah timur Ukraina sekarang.

“Mereka telah membom semuanya. Tidak ada listrik, air, uang maupun pekerjaan. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Namun kami tidak akan pergi, kami ingin tinggal di tanah kami sendiri,” kata seorang warga kota Slovyansk kepada Russia Today.

“Harap membantu kami. Sesuatu harus dilakukan, kita sedang dibunuh di Slavyansk,” tambah warga lainnya.

Menurut Kyiv Post, pasukan militer Ukraina telah menderita “kerugian besar” selama perang sipil ini.

“Tentara Ukraina dan Garda Nasional, yang telah dibatasi oleh sumber daya yang tidak memadai, telah mengalami kerugian besar di tangan militan pro-Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Ini  memunculkan pertanyaan tentang kemampuan mereka untuk menstabilkan wilayah timur negara itu,” tulis Kyiv Post.

Bahkan, telah dilaporkan bahwa tentara Ukraina kehilangan lebih dari 1.000 tentara dalam pertempuran tunggal baru-baru ini.

Namun demikian, kondisi kelompok militan juga tidak kalah mengkhawatirkan. Menurut USA Today, pasukan militan separatis Ukraina telah “kalah dalam persenjataan” dan “mundur”.

Sementara dalam sebuah pernyataan yang diunggah di YouTube, Strelkov, seorang komandan separatis mengatakan bahwa pasukannya kalah jauh dalam jumlah dan persenjataan oleh pasukan Ukraina dan kemungkinan besar akan mundur dari posisi mereka di Yampol dan Seversk dekat Krasnyi Liman. Dia menambahkan kemajuan militer Ukraina benar-benar akan memotong jalur pasokan separatis untuk kota Slovyansk.

“Saya berharap bahwa mereka (Rusia) memiliki hati nurani yang cukup tersisa di Moskow untuk mengambil beberapa tindakan,” kata Strelkov, berharap Rusia untuk campur tangan.

Dan saat perang di Ukraina terus berkecamuk, seluruh dunia menonton dan menunggu untuk melihat apakah Rusia akan terlibat.

Pada saat Rusia telah menggerakkan tentaranya perbatasan, dan di lain waktu menariknya kembali. Minggu ini, tampak tentara Rusia sekali lagi berkumpul di sepanjang perbatasan dengan Ukraina.

“Rusia telah melanjutkan penumpukan militer di perbatasan Ukraina,” kata Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen Kamis (19/6), menyebutnya sebagai “langkah yang sangat disesalkan.”

Namun, kecuali ada sesuatu perubahan yang dramatis, Rusia sepertinya akan menyerang. Dan pada akhirnya, ini bukan pertempuran untuk wilayah di timur Ukraina, sebaliknya, itu adalah pertempuran untuk memenangkan hati dan pikiran penduduk Ukraina timur.

Tidak peduli seberapa parah dan panjang perang saudara ini berlangsung, mereka adalah orang-orang yang pada akhirnya akan memutuskan masa depan negeri mereka sendiri.

Dan sekarang, setiap harinya mendorong mereka semakin jauh dari Kiev dan lebih dekat ke Rusia. Dan itulah yang diinginkan Rusia.

“Setelah pertempuran berhenti, apakah Anda berpikir bahwa kami akan memiliki kecenderungan untuk kembali di bawah wewenang pemerintah di Kiev?” kata seorang penduduk Donetsk kepada Russia Today.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL