senjata ukrainaDonetsk, LiputanIslam.com — Organisasi kerjasama keamanan Eropa, OSCE, memastikan kelompok separatis Ukraina timur telah menarik persenjataan berat dari medan perang sesuai dengan perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani bulan lalu.

Seperti dilaporkan Press TV, Selasa (3/3), misi pengawasan OSCE di Ukraina, SMM, mengatakan bahwa kelompok separatis Donetsk (DPR) dan Luhansk (LPR) telah menarik senjata-senjata berat mereka, namun tanpa menyebut apakah aksi serupa dilakukan pasukan Ukraina.

“SMM memonitor 4 konvoi terpisah dari DPR di wilayah Donetsk,” demikian laporan OSCE yang dikutip Press TV.

Di antara senjata-senjata yang ditarik tersebut adalah 4 unit Howitzer, satu kendaraan taktis dan satu truk pendukung di sebuah lokasi 5 km di sebelah timur kota Donetsk, pada tanggal 28 Februari.

“SMM mengikuti setiap konvoi DPR… dari garis pertempuran ke lokasi yang yang disebutkan sebagai tujuan akhir peralatan itu, di belakang garis pertempuran yang relevan,” tambah laporan itu.

Laporan itu menambahkan SMM telah diiringi oleh anggota-anggota LPR dari Luhansk ke tiga lokasi unit-unit artileri di Brianka, 50 km sebelah barat Luhansk, dua di antaranya senjata-senjata berat yang sudah kosong.

Di sisi lain pasukan Ukraina dikabarkan belum menepati janjinya untuk menarik senjata-senjata artileri dari garis depan, Jubir DPR Eduard Basurin mengatakan, Senin (2/3).

“Kiev menunda menepati janjinya tentang penarikan senjata-senjata berat dari garis pertempuran,” kata Basurin seraya menambahkan hal itu merusak perjanjian gencatan senjata.

Perjanjian gencatan senjata digelar dan ditandatangani di ibukota Belarusia Minsk tanggal 11-12 Februari lalu. Selama perundingan para pemimpin Jerman, Perancis, Rusia, dan Ukraina setuju bagi penarikan senjata-senjata berat dari garis pertempuran di Ukraina timur, dan dinyatakan efektif pada tanggal 14 Februari 2015. Namun faktanya, pertempuran masih tetap berlangsung.

Donetsk dan Luhansk merupakan wilayah setingkat provinsi di Ukraina timur yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia. Kedua wilayah ini memisahkan diri setelah terjadi revolusi di Ukraina bulan Februari 2014. Regim Ukraina kemudian mengirimkan pasukan untuk menumpas gerakan separatisme tersebut. Sampai saat ini lebih dari 5.000 orang tewas akibat konflik ini.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*