osceWina, LiputanIslam.com — Negara-negara anggota OSCE hari Jumat setuju mengirim misi pengamat 100 orang ke Ukraina, namun tidak ke Krimea, setelah Rusia akhirnya membatalkan keberatan, kata seorang juru bicara OSCE, Jumat (21/3)

Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE) akan “mengirim misi pengamat khusus yang mencakup para pengawas internasional ke Ukraina”, demikian sebuah resolusi yang disetujui 57 negara anggota OSCE.

Misi itu akan terdiri dari 100 pengamat dan “jika perlu dan sesuai dengan keadaan bisa ditingkatkan dengan 400 anggota tambahan”, katanya.

Tujuan dari misi itu adalah “memberikan kontribusi di negara tersebut dan dalam kerja sama dengan… para pemain yang relevan di masyarakat internasional (seperti PBB dan Dewan Eropa) akan mengurangi ketegangan dan memperkuat perdamaian, stabilitas dan keamanan”.

Rusia selama sepekan ini menghalangi pengiriman misi semacam itu, dalam pertemuan di markas OSCE di Wina. Seorang juru bicara OSCE mengatakan, misi itu akan ditempatkan dalam waktu 24 jam dan memiliki mandat enam bulan yang bisa diperbarui jika dibutuhkan oleh Ukraina.

AS-Rusia Saling Jatuhkan Sanksi

Sementara itu Presiden Amerika Serikat Barack Obama menaikkan tekanannya dalam konfrontasi Timur-Barat atas Krimea dengan menargetkan beberapa sekutu politik dan bisnis terdekat Presiden Rusia Vladimir Putin dengan sanksi pribadi.

Perpanjangan larangan visa dan pembekuan aset dalam lingkaran orang-orang terdekat Putin pun dilakukan. Sekitar 20 nama telah ditambahkan ke dalam daftar hitam AS, termasuk di antaranya bankir Kremlin Yuri Kovalchuk dan Bank Rossiya-nya, pengusaha minyak dan komoditas utama Gennady Timchenko dan saudara-saudaranya Arkady dan Boris Rotenberg, serta kepala staf dan wakil staf Putin, kepala intelijen militer dan kepala kereta api.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan Departemen Keuangan AS menyatakan, Timchenko adalah salah satu pendiri Bunvor. Gunvor merupakan perusahaan independen dunia dalam bidang perdagangan komoditas, yang melibatkan pasar minyak dan energi.

“Kegiatan Timchenko di sektor energi langsung berkaitan dengan Putin. Putin memiliki investasi di Gunvor dan mungkin memiliki akses dana ke Gunvor,” ungkap pernyataan.

Namun Putin membantah hubungan apa pun dengan Gunvor di masa lalu. Perusahaan perdagangan minyak yang berbasis di Swiss itu mengatakan, Putin tak memiliki saham di Gunvor.

Menurut perusahaan, informasi itu salah dan keterlaluan. Pernyataan juga mengatakan, Timchenko telah menjual 43 persen saham Gunvor untuk kepala eksekutifnya Torbjorn Tornqvist. Penyerahan saham yang dilakukan Rabu (19/3), sebagai bagian dari rencana darurat.

Washington mengumumkan sanksi putaran pertama terhadap 11 orang Rusia dan Ukraina berlaku Senin. Seorang pejabat AS mengatakan, membekukan aset Bank Rossiya senilai 10 miliar dolar.

Moskow pun membalas dengan mengumumkan sanksi terhadap politisi senior AS. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, tindakan AS seperti bumerang bagi negeri Paman Sam itu.Sejumlah pejabat AS juga masuk dalam daftar sanksi Rusia. Antara lain calon presiden Senator AS John McCain, pemimpin mayoritas Senat Harry Reid, ketua kongres John Boehner, dan wakil penasihat keamanan nasional presiden Ben Rhodes.(ca/republika.co.id)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL