ying luckBangkok, LiputanIslam.com—Kelompok oposisi Thailand atau yang sering disebut kelompok ‘kaus kuning’ sebenarnya menginginkan lebih sedikit demokrasi. Mereka tahu, bila pemilu diadakan dengan lancar, mereka akan kalah. Karena itulah mereka menuntut agar pemerintahan dipegang oleh sebuah ‘Dewan Rakyat’ yang tidak dipilih melalui pemilu. Demikian kesimpulan dari analisis yang ditulis Keri Philips dari abc.net.au kemarin.

Selama masa pemilu tanggal 2 Februari lalu, para demonstran antipemerintah memblokade beberapa tempat untuk mencegah terdistribusinya surat suara dan memboikot paksa beberapa tempat pemungutan suara, serta melarang masyarakat untuk memberikan suaranya. Alhasil, sekitar 10 ribu TPS di 9 propinsi tidak bisa menyelenggarakan pemungutan suara. Namun demikian, pemilu tetap dilaksanakan.

Situasi memanas di Thailand ini seiring terus berlangsungnya demo anti pemerintahan Yingluck Sinawatra. Massa yang bergerak dibawah pimpinan Suthep Tsaugsuban terus mendesak turunnya Yingluck dari tampuk kekuasaan Perdana Menteri. Suthep menganggap adik dari mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra ini hanyalah boneka dan perpanjangan tangan Takshin. Takshin sendiri, dikudeta oleh militernya pada tahun 2006 atas tuduhan korupsi dan membeli suara.dan Thaksin yang kini berada di Dubai, dipercaya masih mengendalikan pemeritahan dalam negeri Thailand dari sana.

Suthep Tsaugsuban, mantan Sekretaris Jendral Partai Demokrat yang mengundurkan diri dari Parlemen pada tahun 2011, menunjuk dirinya sendiri sebagai sekretaris Jendral Komite Reformasi Rakyat Demokrat (People’s Democratic Reform Comittee) pada tahun 2013.

Menurut The Nation, massa PDRC antipemerintah tak akan mau mundur meski prospek kemenangan mereka semakin kabur. Sebagian percaya, kondisi ini akan berlangsung berlarut-larut.

“Rasanya semua ini tak akan berakhir,” ungkap Pitchayanand Piangchan, seorang pebisnis dari Prachin Puri yang datang bersama suaminya setiap akhir pekan selama berminggu-minggu untuk bergabung dengan demonstran.

“Ini akan jadi pertempuran panjang, semua ini mungkin akan berlarut-larut,” kata seorang feminis PDRC, Thaicha na Nakorn. (LB/abc.net.au/thenation)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL