Rozzak dkk (foto:tribunnews)

Rozzak dkk (foto:tribunnews)

Tahukah Anda bahwa obat nyamuk yang beredar di pasar selama ini sesunguhnya adalah zat kimia berbahaya? Obat nyamuk pada dasarnya menggunakan racun, dan tidak ada racun yang benar-benar aman. Racun utama yang dipakai oleh obat nyamuk di Indonesia, antara lain Propoxur dan Dichlorvos. Propoxur adalah senyawa karbamat yang telah dilarang penggunaannya di luar negeri karena diduga kuat sebagai zat karsinogenik. Sedangkan DDVP atau Dichlorvos adalah zat turunan chlorine yang sejak puluhan tahun dilarang penggunaannya di dunia.

Karena itu, adalah berita gembira, ketika sekelompok mahasiswa Undip berhasil menemukan cara pembasmian serangga itu dengan alami.

Rozzak Alhanif Islamudin beserta temannya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip, Hamas Musyaddad Abdul Aziz, Elva Diana, dan Astri Aprilia mengolah daun srikaya sebagai obat nyamuk alami.

Menurut Rozzak, pengembangan tersebut berawal dari pengamatannya di Kota Semarang.

“Semarang itu merupakan satu daerah endemik demam berdarah. Kepadatan penduduk dan tatanan kota yang kurang baik serta permasalahan sampah menjadi tempat nyamuk,” katanya kepada Tribun Jateng, Jumat (18/4) siang.

Menurutnya, kasus DBD di Kota Semarang juga termasuk tinggi di Jawa Tengah. Selain itu, fenomena obat anti nyamuk yang kurang aman bagi kesehatan juga masih banyak beredar di kalangan masyarakat.

Untuk itulah, Rozzak membentuk tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang pengabdian kepada masyarakat untuk memutar otak mencari cara aman mengusir nyamuk. Rozzak dkk pun menemukan bahan yang tepat untuk membasmi nyamuk, yaitu daun srikaya.

“Pada daun srikaya terdapat zat aktif, yaitu annonain dan resin yang berperan sebagai insektisida maupun larvasida. Zat ini dapat bekerja sebagai racun perut dan racun kontak pada serangga, sebagaimana hasil penelitian,” tutur pria yang mengetuai penelitian ini.

Dia menyebutkan, program tersebut telah mendapat dukungan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Ditlitabmas) Ditjen Dikti Kemdikbud.

Dia mengatakan, pengendalian nyamuk yang aman bagi lingkungan menggunakan bioinsektisida nabati. Berbeda dengan pengendalian nyamuk yang menggunakan senyawa sintetis. Sebab, dapat menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran lingkungan, resistensi, dan ledakan hama sekunder.

“Pemakaian daun srikaya sangat tepat. Sebab aman bagi lingkungan,” kata Rozzak.

Dia memaparkan, proses pembuatan obat semprot daun srikaya relatif mudah. Daun srikaya terlebih dahulu dicuci kemudian dikeringkan pada suhu kamar. Setelah itu dihaluskan menggunakan blender. Ekstrak daun srikaya lalu diambil kemudian ditambahkan bahan campuran.

“Bahan yang digunakan pun mudah diperoleh. Mulai dari daun srikaya, aquades, pelarut, dan pewangi untuk menghilangkan bau yang tidak sedap dari daun srikaya,” tutur Rozzaq.

Dia mengatakan, hasil penelitian daun srikaya sebagai insektisida yang telah dikembangkan menjadi obat semprot anti nyamuk ini diberi nama “Bye-bye Nyamuk”.

Menurutnya, timnya akan melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan pembuatan produk semprot nyamuk.

“Kami berencana akan membuatnya di Kelurahan Tlogosari Wetan Kecamatan Pedurungan Kota Semarang,” ungkapnya.

Dia berharap, melalui pendampingan itu akan terbentuk rintisan kelompok usaha masyarakat untuk memproduksi obat nyamuk ramah lingkungan. (dw/tribunnews.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL