obama bibiWashington DC, LiputanIslam.com — Presiden AS Barack Obama mengatakan kepada perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Washington akan mengevaluasi hubungannya dengan Israel, setelah Netanyahu mengeluarkan beberapa pernyataan ‘provokatif’.

Sebagaimana dilansir Press TV, Jumat (20/3), Obama mengatakan hal itu melalui pembicaraan telepon dengan Netanyahu hari Kamis (19/3), beberapa hari setelah Netanyahu menyatakan penolakannya atas pembentukan negara Palestina.

Netanyahu menyatakan penolakannya terhadap keberadaan negara Palestina yang berdaulat, sekaligus menghancurkan ‘rencana damai’ yang dirancang AS selama ini bagi penyelesaian konflik Palestina-Israel, yaitu pengakuan 2 negara berdaulat Palestina dan Israel.

“Presiden (Obama) mengatakan kepada PM Israel bahwa kami akan mengevaluasi pilihan-pilihan kami terkait dengan posisi baru Perdana Menteri Israel dan komentar-komentarnya tentang ‘solusi dua negara’,” demikian pernyataan Gedung Putih.

Partai pimpinan Netanyahu, Likud, memenangkan 30 kursi parlemen dalam pemilihan legislatif hari Selasa (17/3), unggul dari saingan terdekatnya partai Zionist Union yang meraih 24 kursi.

Netanyahu dengan tegas menentang perundingan nuklir dengan Iran, hal yang justru tengah diupayakan AS dalam perundingan program nuklir Iran bersama-sama negara-negara maju lainnya. Selama kampanye lalu Netanyahu juga dengan tegas menolak berdirinya negara Palestina sebagai solusi penyelesaian konflik Palestina-Israel yang diupayakan AS selama ini.

Meski pembicaraan berlangsung tegang, Obama tidak lupa memberikan selamat kepada Netanyahu atas kemenangannya dalam pemilu lalu.

Pada hari Kamis, Gedung Putih mengisyaratkan untuk melonggarkan perlindungan diplomatiknya terhadap Israel di forum PBB menyusul kemenangan Netanyahu itu.

“Langkah-langkah yang telah diambil AS hingga ke PBB telah menjadi predikat bahwa solusi 2 negara (Palestina dan Israel) adalah hasil terbaik,” kata Jubir Gedung Putih Josh Earnest kepada wartawan.

“Apa yang tampak adalah bahwa dalam kontek kampanye dan saat ia (Netanyahu) duduk sebagai Perdana Menteri Israel, ia telah berjalan mundur dari komitmen Isreal sebelumnya bagi solusi 2 negara,” kata Earnest lagi.

“Sekarang sekutu kami (Israel) dalam perundinga ini telah mengatakan bahwa mereka tidak lagi berkomitmen dengan solusi itu. Ini berarti kami harus mengevaluasi kembali posisi kami dalam hal ini, dan itulah yang akan kami lakukan di masa mendatang,” tambahnya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*