Somaly-MamNew York, LiputanIslam.com — Tokoh pejuang ham internasional asal Kamboja, Somaly Mam, diduga telah melakukan kebohongan publik tentang masa lalunya. Akibatnya kini ia terpaksa harus mengundurkan diri dari yayasan yang didirikannya.

Berdasar laporan majalah AS Newsweek baru-baru ini, kisah hidup Mam yang tertulis di buku memoirnya “The Road of Lost Innocence” ternyata tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Menyusul munculnya kasus kebohongan publik itu, Somaly Mam pun mengundurkan diri dari yayasan Somaly Mam Foundation.

“Kami telah menerima pengunduran diri Somaly. .. Meski kami kecewa, kami tetap menghormati kerja keras yang dilakukan Somaly selama 2 dekade yang berhasil membangun pondasi bagi penyelamatan ribuan wanita,” kata Direktur Eksekutif yayasan, Gina Reiss-Wilchins, di New York,
Sabtu (1/6).

“Komitmen kami untuk mencegah praktik trafficking dan eksploitasi seksual wanita di Asia Tenggara tetap teguh, dan kami berharap Anda (Somaly) tetap berdiri di samping kami di masa-masa yang sulit ini,” tambah Reiss-Wilchins.

Selama bertahun-tahun Somaly Mam telah menjadi ikon gerakan anti-trafficking dan eksploitasi seksual wanita internasional. Ia telah menjadi bintang tamu Oprah Winfrey Show, diwawancarai oleh New York Times, PBS Documentary, menjadi “Time Magazine’s 100 Most Influential People of 2009”, bahkan CNN menjulukinya sebagai “Pahlawan” pada tahun 2007. Semuanya berdasar pada buku memoirnya yang menyentuh perhatian jutaan orang di dunia berjudul “The Road of Lost Innocence”.

Selain mengantarkannya sebagai tokoh dunia, buku tersebut sekaligus menjadi mesin uang yang membuat Somaly Mam bisa mendirikan yayasan Somaly Mam Foundation.

Namun laporan majalah Newsweek bulan Mei membongkar kebohongan kehidupan Somaly Mam. Laporan yang ditulis Simon Marks itu menyebutkan bahwa keterangan dalam otobiografi Somaly Mam berbeda dengan keterangan saksi-saksi dalam kehidupan Mam, termasuk keterangan sepupunya sendiri di Kamboja.

Penduduk Desa Thloc Chhroy dimana Somaly menghabiskan masa kecilnya mengaku tidak mengenal adanya seorang “kakek kejam” yang telah memperbudak Somaly, atau pedagang Cina yang telah memperkosa Somaly sebagaimana ditulis dalam otobiografi Somaly. Mereka juga tidak mengenal adanya seorang tentara kejam yang menikahi paksa Somaly.

Menurut keterangan mereka, Somaly Mam hidup normal di desa antara tahun 1981 dan 1987, sebelum Mam menyelesaikan sekolah menengahnya dan melamar sebagai guru. Sebaliknya Mam dikenal sebagai pribadi yang bahagia, jauh dari penderitaan yang diceritakannya.

“Mam terkenal dan populer di desanya, seorang gadis yang riang dan bahagia dengan rambut kepangnya,” tulis Newsweek dalam laporannya.

Dalam wawancara dengan CNN hari Jumat (30/5), Marks mengaku telah mewawancarai puluhan orang di desa tersebut, mulai dari tetangga, mantan guru, para tetua desa, teman sekolah hingga saudara sepupu Mam.

Yayasan Somaly Mam berhasil menarik beberapa korporasi global menjadi donator tetapnya, termasuk Estee Lauder Companies dan Goldman Sachs. Aktris Hollywood Susan Sarandon bahkan bersedia duduk sebagai dewan penasihat yayasan.

Pada tahun 2011, Somaly Mam Foundation berhasil menarik donasi hingga $2,1 juta dan bertambah menjadi $2,78 juta setahun kemudian.

Laporan Newsweek tersebut juga membongkar kebohongan-kebohongan Mam lainnya, termasuk menyusun sandiwara wanita-wanita korban trafficking untuk membuat testimoni di media massa atau lembaga-lembaga pembela HAM, namun sebenarnya mereka adalah artis yang dibayar.(ca/cnn)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL