Yerussalem,LiputanIslam.com—PM Israel, Benyamin Netanyahu, mendesak AS untuk segera mengakui wilayah Dataran Tinggi Golan, yang sebetulnya menjadi wilayah Suriah, menjadi wilayah Israel. Desakan ini didasarkan atas keinginan Israel untuk menguasai wilayah tersebut karena letaknya yang strategis.

“Dataran Tinggi Golan benar-benar sangat penting bagi keamanan kami,” ucap Netanyahu kepada John Bolton, Penasehat Kemanan Nasional AS, pada Senin (7/1).

Selain itu, Netanyahu juga telah menyiapkan rencana untuk mengajak Bolton pergi ke daerah Golan untuk menyaksikan dataran tinggi itu secara langsung.

“Saat Anda ada di sana, Anda pasti akan mengerti secara utuh, mengapa kami tidak akan pernah meninggalkan Golan dan mengapa juga pengakuan semua negara bahwa Golan sebagai wilayah kami itu sangat penting,” jelas Netanyahu.

Padahal jika dilihat dari rekam sejarahnya, Dataran Tinggi Golan sebelumnya masuk ke wilayah territorial Suriah. Pada 1967, rezim Israel melancarkan perang besar-besaran untuk melakukan ekspansi ke wilayah territorial negara-negara Arab, termasuk Suriah dan mulai menduduki wilayah Golan secara paksa.

Pada 1973, perang yang disebut Yom Kippur War pun pecah antara Israel dengan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.

Setahun kemudian, pasukan PBB pun masuk ke arena pertempuran dengan maksud mendamaikan. Atas dasar itu, kedua kubu sepakat untuk melakukan genjatan senjata dan menarik pasukan masing-masing. Genjatan sejata berakhir dengan lahirnya zona aman yang dikontrol oleh para penjaga perdamaian dari PBB.

Pada 1981, Israel mengeluarkan UUD yang menyebutkan bahwa Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel. Sebagai respon, PBB pun langsung mengeluarkan resolusi DKK PBB 497, beberapa hari kemudian, yang menyatakan bahwa UUD buatan Israel itu omong kosong dan tidak akan berdampak pada hukum internasional.

Terakhir, pada 2018 kemarin, sidang Majlis Umum PBB telah mengesahkan bahwa Dataran Tinggi Golan adalah bagian dari wilayah teritorial dan kedaulatan Suriah.

Hingga saat ini, Israel masih belum merasa puas dengan keputusan PBB tersebut. Atas dasar itu, Israel pun memanfaatkan kekuatan dan pengaruh Amerika untuk mendesak masyarakat internasional mengakui apa yang mereka inginkan.

Sebelumnya, Israel telah merasa senang, Amerika mau mengakui Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel, meski harus menerima makian dan protes dari PBB dan masyarakat Dunia. Amerika pun mau menarik dirinya darinya perjanjian nuklir Iran, yang berdampak pada stabilitas perminyakan dunia. Tak sampai di situ saja, Amerika pun sering kali memberikan dukungan diplomatik kepada Israel di berbagai forum dunia.

“Penting bagi kami untuk mengetahui bahwa kami memiliki dukungan dari sahabat sekaligus sekutu yang luar biasa, yaitu Amerika,” Puji Netanyahu. (fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*