victoria-nuland-and-bushLiputanIslam.com — Ketika Presiden Barack “Messiah” Obama dilantik sebagai Presiden AS tahun 2009 lalu, publik dunia menyangka ia benar-benar akan membawa perubahan signifikan terutama di bidang politik luar negeri. Apalagi dalam pidato pelantikannya ia menjanjikan hubungan yang lebih baik dengan dunia Islam yang selama pemerintahan rezim sebelumnya menjadi obyek permusuhan Amerika.

Barack Obama yang berasal dari partai Demokrat, yang secara tradisi dianggap lebih demokratis dan liberalis dalam memandang politik luar negeri Amerika, dianggap sebagai anti-tesa dari George W. Bush yang sangat konservatif, dengan melancarkan proyek perang melawan terorisme di negara-negara Islam.

Namun harapan tersebut ternyata harus menguap tanpa bekas setelah terbukti Obama, tidak saja meneruskan kebijakan pendahulunya George W Bush, dalam kasus tertentu seperti di Afghanistan dan Pakistan, dan kini terlihat dalam konflik di Ukraina dan Venezuela, justru menampilkan sosok neokonservatisme yang lebih kuat.

Terminologi “neokonservatisme” merujuk pada satu kecenderungan sikap politik luar negeri Amerika yang agresif dan konservatif dalam mewujudkan ambisi dominasi Amerika yang anti-Islam dan pro-Israel. Istilah ini dipopulerkan oleh tokoh sosialis Amerika, Michael Harrington, yang menggunakan istilah itu untuk mendefinisikan beberapa tokoh Amerika yang berbeda pandangan dengannya, seperti Daniel Bell, Daniel Patrick Moynihan, dan Irving Kristol. Terminologi ini semakin eksis setelah Irving Kristol sendiri menggunakannya untuk mendefinisikan pandangan-pandangannya, dalam sebuah artikel yang ditulis tahun 1979, “Confessions of a True, Self-Confessed ‘Neoconservative.'” Dilanjutkan oleh Norman Podhoretz, editor majalah Commentary, melalui sebuah artikel di majalah New York Times tahun 1982 berjudul “The Neoconservative Anguish over Reagan’s Foreign Policy”.

Sebenarnya bagi pengamat politik yang jeli, tanda-tanda Obama akan “berbohong” dengan janji kebijakan luar negerinya telah tampak sejak awal, ketika ia mengangkat Hillary Clinton dan Robert Gates, 2 tokoh neo-konservatisme, sebagai menlu dan menhan Amerika. Apalagi dengan pemilihan Victoria Nuland sebagai asisten menlu. Nama asli Nuland adalah Victoria Nudelman. Ia mengubah namanya sesuai kebiasaan orang-orang yahudi yang berusaha menyembunyikan identitas keyahudiannya di hadapan publik.

Nuland adalah istri dari Robert Kagan, yahudi pendiri lembaga kajian pengusung utama gerakan neo-konservatisme Amerika, Project for the New American Century (PNAC). Nuland juga cucu perempuan dari Meyer Nudelman, seorang imigran yahudi orthodox dari Lithuania.

“Ia adalah seorang yahudi orthodox, seorang pengidap sipilis yang memiliki kecenderungan hidup yang berbeda,” kata Dr. Sherwin Nuland, anak dari Meyer Nudelman dan ayah dari Victoria Nuland, kepada New York Times, suatu ketika.

Sebagaimana para neokon (kependekan dari neokonservatif) lainnya, Robert Kagan adalah promotor “kebijakan” perang melawan terorisme, demi menjadikan Amerika sebagai penguasa mutlak dunia yang menjamin keamanan Israel, dengan menghancurkan negara-negara Islam. Untuk itu pada tahun 1999 dan 2000 Kagan dan kawan-kawan mendorong wacana “Pearl Harbour baru” untuk menjadi landasan Amerika melancarkan perang. Dan terjadilan Serangan WTC pada tahun 2001 yang menewaskan sekitar 3.000 warga Amerika.

Saudara kandung Robert Kagan, Fred Kagan, juga aktif di PNAC, dan turut terjun di medan Perang Irak dengan menjadi penasihat para pejabat Amerika dan pemerintahan boneka di Irak, tentang bagaimana bertindak keras terhadap warga Irak, terutama demi menciptakan perang sektarian Sunni-Syiah di sana. Sementar itu Donald Kagan, imigran yahudi kelahiran Lithuanian yang adalah ayah kandung Robert dan Fred, juga duduk sebagai dewan pengawas di PNAC.

Para pengamat “teori konspirasi” sejak lama mengetahui bahwa para bankir internasional yahudi menciptakan LSM dan lembaga-lembaga kajian untuk mempromosikan aspirasi mereka di antara pemerintahan negara-negara di dunia. Dan PNAC adalah salah satunya. Maka tidak heran jika para ilmuan haus darah seperti keluarga Kagan dan Victoria Nuland justru mendapat tempat terhormat di panggung kekuasaan Amerika, daripada menghadapi pengadilan kejahatan kemanusiaan.

Victoria Nulan-lah, yang pernah sesumbar bahwa Amerika telah menghabiskan $5 miliar untuk menciptakan “perubahan demokratis” di Ukraina, dan ketahuan publik menjadi aktor utama penggulingan Presiden Victor Yanukovich yang terpilih secara demokratis untuk digantikan dengan rezim baru yang berisi para ekstremis dan militan neo-Nazi. Meski untuk itu puluhan orang yang tidak berdosa harus kehilangan nyawa karena tembakan penembak-penembak jitu yang dibayar oleh orang-orang yang kini menjadi penguasa baru Ukraina, yang didukung Amerika.

Victoria Nulan pula-lah yang menjadi aktor aksi-aksi anarkis di Venezuela saat ini yang telah menelan nyawa puluhan orang dan menghabiskan energi positif bangsa Venezuela yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dan sudah barang tentu, Nulan jugalah, yang bersama teman-temannya sesama pengikut neo-konservatisme Amerika, menjadi penggerak utama pemberontakan di Suriah, yang telah menelan nyawa 150.000 rakyat Suriah.

Kini bahkan kejahatan mereka telah mencapai tahap yang paling membahayakan, dengan memprovokasi Rusia untuk terlibat dalam “Perang Dingin II” yang dapat berujung dengan perang nuklir.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL