america summitPanama City, LiputanIslam.com — Para pemimpin negara-negara Amerika Latin, Sabtu waktu setempat (11/4), bersatu dan berbicara pedas mengecam sanksi AS terhadap Kuba dan Venezuela sebagai ‘sisa langkah kuno era Perang Dingin’.

Para kepala negara regional yang menghadiri Pertemuan Puncak Ke-7 Negara-negara Amerika di kota Panama City itu bergantian menyeru Washington untuk mencabut embargo perdagangan selama setengah abad kepada Kuba dan mencabut dekrit yang menyatakan Venezuela sebagai “ancaman luar biasa” bagi keamanan nasional AS. Dekrit yang belum lama ini disampaikan itu juga berisi sanksi ekonomi terhadap para pejabat dan mantan pejabat Venezuela.

Presiden Brasil Dilma Rousseff, pemimpin ekonomi terbesar wilayah itu dan terbesar ketujuh dunia, sebagaimana dilansir Antara, berkata, “Hubungan baik belahan dunia tak lagi membolehkan aksi sepihak dan kebijakan pengucilan. Semua itu kontraproduktif dan tak efisien. Itu sebabnya mengapa kami menolak sanksi terhadap Venezuela.”

Sedangkan Presiden Argentina Cristina Fernandez bahkan lebih blak-blakan dengan menyebut dekrit tersebut sebagai “menggelikan”.

“Saya mengakui … ketika saya pertama kali mendengar berita itu saya mengatakan, pasti ada kekeliruan… Menggelikan bahwa ada negara di benua kita yang bisa mengancam negara paling kuat di dunia,” kata Cristina Fernandez sebagaimana dikutip Xinhua.

Ia mengatakan anggaran militer AS yang jumlahnya ratusan miliar dolar AS membuat kerdil anggaran militer Venezuela.

“Memalukan bahwa pertemuan puncak ini diselimuti oleh dekrit tersebut,” tambah perempuan presiden itu.

Pemimpin Kuba Raul Castro mengulangi permintaan negaranya agar AS mencabut embargo tersebut, terutama jika Washington mengupayakan normalisasi hubungan. Tapi ia juga memuji Presiden AS Barack Obama karena berani menempatkan kembali kebijakan luar negeri AS, yang berusia setengah abad, terhadap negara pulau sosialis itu.

Raul juga mengutuk sanksi tersebut dan dekrit terhadap Venezuela, sebagaimana kepada para pemimpin lain Amerika Serikat termasuk Presiden Bolivia Evo Morales.

“Rekan Obama, sudah tiba waktunya untuk mendengarkan bukan hanya suara pemerintah dan rakyat kami, tapi juga suara rakyat Anda sendiri, yang pasti sudah lelah dengan demikian banyak perang,” kata Morales. “Sudah tiba waktunya kita harus hidup berdampingan dalam kedamaian, keharmonisan dan saling menghormati.”

Semua negara Amerika Latin menyambut baik pendekatan Kuba dan Amerika Serikat, tapi sependapat masih sangat banyak yang harus dilakukan sebelum hubungan diplomatik dengan AS mencerminkan kenyataan baru mengenai wilayah yang lebih independen dan bersatu.

“Saya sepenuhnya percaya bahwa kita berada pada fajar era baru,” kata Maduro. “Marilah kita hadapi tantangan untuk membina hubungan dengan landasan saling menghormati dan perdamaian.”

Pertemuan Obama dengan Raul Castro

Dalam pertemuan itu Presiden AS dan Kuba membuat sejarah dengan saling bertegur sapa dan berjabat tangan. Tidak hanya itu, keduanya terlibat dalam pembicaraan intensif selama satu jam.

“Ini adalah pembicaraan yang jujur dan bermanfaat antara saya dan Raul Castro,” kata Obama kepada wartawan setelah bertemu Raul Castro.

Obama, juga mengatakan bahwa dia “sangat berterus terang” dalam mengungkapkan perbedaan mereka dalam soal hak asasi manusia.

“Kami bisa berbicara secara jujur mengenai perbedaan-perbedaan dan keperihatinan-keperihatinan kami dalam cara yang saya kira menawarkan kemungkinan mengubah hubungan antara dua negara kami dalam arah yang berbeda dan lebih baik,” kata dia seperti dikutip AFP.

“Kami memiliki pandangan-pandangan yang sangat berbeda mengenai bagaimana masyarakat mesti ditata. Dan saya sangat terus terang kepada dia bahwa kami tidak akan menghentikan pembicaraan mengenai masalah-masalah seperti demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan berlembaga, dan kebebasan pers.”(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL