sawahJakarta, LiputanIslam.com — Buruknya nasib petani Indonesia, merupakan akibat dari abainya pemerintah. Petani, nyaris tidak diperhatikan dengan baik, dan hampir tidak ada perlindungan di tengah-tengah arus globalisasi dan barang impor yang bebas masuk. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama PT Gendhis Multi Manis, Kamajaya, Selasa, 23 September 2014.

Karena itu, kata Kamajaya, sampai kapanpun, walau para petani Indonesia bekerja keras, susah diharapkan petani bisa bangkit.

“Mereka sudah kerja keras banting tulang setahun penuh, begitu panen yang ada utangnya bertumpuk. Makanya mereka akan berpikir mencari pekerjaan lain. Ngapain lagi cape-cape banting tulang,” jelas Kamajaya, seperti dilansir Inilah.com, 23 September 2014.

Pada persoalan ini, lanjut dia, tidak hanya petani yang menjerit. Indonesia dengan kekayaan alam, dan dikenal sebagai negara tropis, juga tidak bisa lagi mengekspor seperti dahulu.

“Kita ini tropical country. Sekarang kalau bicara gula misalnya, dulu kenapa kita eksportir gula. Karena kita itu punya tanah, punya alamnya dan punya komunitas petani yang luar biasa banyak. Sekarang permasalahannya, barang-barang impor menghantam barang-barang lokal. Jadi sampai kapanpun nggak akan bisa bangkit,” katanya.

Dia menjelaskan, dulu rendeman atau kader gula pada tebu itu 14 persen. Sekarang 7 persen. Makanya kalau dimaksimalkan, potensi produksi itu bisa 2 kali lipat.

“Kalau misalnya Indonesia produksi 2,5 ton, dan balik, kan bisa 5 ton (produksinya). Bisa selesai perkara nggak perlu impor. Pola yang sama bisa diterapkan di semua pruduk. Wong dulu kita ekspor jagung kok, ekpor beras ke Thailand dan kemana-mana,” jelasnya.

Dia yakin, Indonesia tidak akan mati kalau tidak impor. Justru, lanjut dia, negeri ini bisa bangkit kembali kalau petani lokal diberdayakan, dan diperhatikan dengan serius. Ini juga menjadi tantangan bagi pemerintahan Jokowi-JK.

Peringati Hari Tani Nasional, Petani Siap Berdemo

Hari Tani Nasional yang diperingati tiap 24 September, rencananya sekitar 2.000 petani akan melakukan aksi unjuk rasa di depan Mahkamah Agung (MA) dan Istana Negara.

Dari laporan Tribunnews.com, aksi massa hari ini berasal dari Gerakan Rakyat untuk Pembaharuan Agraria. Dalam aksinya mereka menuntut penolakan reformasi agraria, menolak masterplan pembangunan Indonesia dan menolak kenaikan BBM.

Sebelum melakukan aksinya, massa terlebih dahulu berkumpul di Masjid Istiqlal lalu bergerak ke MA dan Istana Negara. (ph)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL