Seorang anak kecil Rohingya berdiri di depan kamp Thet Kel Pyin di perayaan Idul Adha, 22 Agustus 2018. (Photo by AFP)

Naypyidaw, LiputanIslam.com–Pemerintah Myanmar memberikan pembebasan awal kepada 7 tentara yang dipenjara karena membunuh sepuluh pria dan anak laki-laki Muslim Rohingya selama peristiwa genosida di Rakhine barat pada tahun 2017. Pembebasan itu dilakukan diam-diam tanpa diumumkan kepada publik.

Tentara-tentara ini dibebaskan pada bulan November tahun lalu. Itu berarti, mereka hanya menjalani satu tahun dari 10 tahun hukuman penjara karena melakukan pembunuhan di desa Inn Din.

Mereka juga menjalani hukuman lebih pendek dibandingkan dua wartawan Reuters yang meliput kasus pembunuhan ini. Kedua wartawan, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, menghabiskan lebih dari 16 bulan di balik jeruji besi atas dakwaan memperoleh rahasia negara. Keduanya dibebaskan pada 6 Mei lalu.

Kepala sipir di Penjara Sittwe Rakhine, Win Naing, dan seorang pejabat senior anonim mengkonfirmasikan bahwa ketujuh tentara terpidana memang sudah tidak berada di penjara selama beberapa bulan ke belakang.

“Hukuman mereka dikurangi oleh militer,” kata pejabat senior yang menolak disebutkan namanya itu.

Kelompok Muslim Rohingya telah menjadi korban operasi pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran oleh militer yang didukung oleh ekstrimis Buddha. PBB bahkan menyebut peristiwa ini sebagai “contoh pembersihan etnis dalam buku pelajaran”.

Operasi brutal ini memaksa 700.000 warga Rohingya lari dari tempat tinggal mereka sejak Agustus 2017 dan menumpang di Bangladesh.

Komunitas yang telah tinggal di Myanmar selama bergenerasi ini ditolak kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar dan dicap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.  (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*