Jakarta, LiputanIslam.com–Di awal tahun ajaran baru, tradisi MOS (Masa Orientasi Siswa) kembali menjadi topik pembicaraan di jejaring sosial. Tradisi MOS di berbagai sekolah dan kampus di Indonesia umumnya berupa pelecehan intelektualitas, mulai dari penggunaan pakaian aneh hingga kekerasan fisik. Sebagian pihak menilai ini adalah bentuk pelestarian sikap-sikap kolonialisme atau penjajahan.

Pakar Parenting terkemuka, Ayah Edi, dalam status facebooknya, misalnya menyebut MOS sebagai bentuk kekerasan dan pelecehan. Menurut Ayah Edi, seharusnya MOS dihapuskan dari seluruh sistem penerimaan sekolah atau setidaknya diganti menjadi Program Pengenalan Budaya Sekolah yang isinya adalah pengenalan budaya kerja, fasilitas, tugas dan tanggung jawab serta etika moral perusahaan pada para karyawan baru.

Dalam sebuah foto yang diunggah di jejaring sosial, MOS di Indonesia dikontraskan dengan kegiatan MOS di luar negeri yang mengedepankan intelektualitas.

MOS

Teks foto ini berbunyi, “Di luar negeri, generasi muda diperlakukan secara manusiawi dan dididik agar menjadi leader. Di Indonesia diperlakukan tidak wajar dan diajarkan agar tunduk pada penguasa dan menjadi penindas kaum lemah.”

Foto yang diunggah oleh fanpage Komunitas Ayah Edi itu sudah di-share ulang hingga lebih dari 26.000 dan mendatangkan ribuan komentar. Sebagian komentator menceritakan pengalaman mereka belajar di luar negeri. Akun Christina Silvana, misalnya, menceritakan pengalamannya di Finlandia.

MOS di sini lebih ke arah pengenalan siswa ke lingkungan yang baru. Senior memperkenalkan apa yang ada di lingkup sekolah dan kampus, bahkan kami hanya diberikan tugas untuk membuat esay mendeskripsikan kepribadian masing-masing dan kesan kami saat MOS. Tugas itu pun harus diserahkan ke kepala fakultas/pembimbing bukan ke senior. Selebihnya diisi seminar-seminar tentang fasilitas yang dimiliki tiap kampus, kesehatan, dan gimana caranya menggunakan fasilitas.”

MOS di Indonesia berkali-kali telah merenggut korban jiwa. Pada tahun 2013, misalnya, MOS di SMK 1 Pandak, Bantul, Jawa Timur, membuat Anindya Ayu Puspita (16), harus kehilangan nyawanya setelah dihukum squat jump oleh seniornya (19/7/2013). Seperti dikutip Tribunnews, Anggota komisi X DPR RI Ahmad Zainuddin, menyatakan bahwa Kemendikbud ikut bertanggung jawab atas adanya korban tewas akibat MOS ini.

“Tidak ada alasan pemerintah untuk melanjutkan program MOS ini karena pendekatan yang digunakan selama ini adalah perpoloncoan, bukan lagi sebagai wadah orientasi siswa,” ungkapnya.(dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL