awan panas sinabung (foto:harian andalas)

awan panas sinabung (foto:harian andalas)

Medan, liputanislam.com—Letusan Gunung Sinabung, Sumatera Utara, telah merenggut korban jiwa 14 orang. Demikian informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Saat letusan terjadi, para korban sedang berada di Desa Sukameriah yang hanya berjarak 2,7 km dari kawah Sinabung yang mengalami erupsi. Mereka naik ke gunung dengan maksud menengok rumah-rumah yang selama ini ditinggal mengungsi.

Salah satu korban selamat, Alvian, warga Desa Sukameriah, mengisahkan, segera setelah mendengar letusan gunung, dia dan kerabatnya, Doni, keluar rumah dan lari menjauh. Alvian selamat dari awan panas, sementara Doni mengalami luka bakar akibat awan panas itu. Kini Doni sedang dirawat di RS Efarina Etaham, Berastagi.

Awan panas (nuee ardente) merupakan salah satu efek paling berbahaya yang menyertai letusan gunung. Awan panas adalah aliran suspensi yang terdiri dari batu, kerikil, abu, pasir dalam bentuk gas panas yang keluar dari gunung api dan mengalir turun mengikuti lerengnya dengan kecepatan mencapai lebih dari 100 km per jam sejauh puluhan kilometer. Aliran awan panas tersebut tampak seperti awan bergulung-gulung yang menuruni lereng gunung api. Temperatur paling rendah dari awan tersebut sekitar 100 °C, namun bisa juga mencapai 1000 °C.

Secara visual, awan panas tampak menyerupai domba-domba yang sedang menyusuri lereng. Itulah sebabnya, dalam bahasa Jawa, awan panas diistilahkan wedhus (kambing) gembel.

Awan panas bergerak dengan sangat cepat dan sanggup melewati penghalang alami, seperti bukit atau tebing. Saking cepat dan panasnya, awan panas ini dapat menghancurkan semua dilewatinya. Efeknya bagi makhluk hidup berupa luka bakar hingga kematian yang disebabkan oleh temperatur yang tinggi dan debu panas yang masuk ke paru-paru. (dw/detik/republika)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL