killing-of-syrian-rebelsDamaskus, liputanislam.com — Di tengah perundingan Genewa II yang tengah berlansung di Swiss, pertempuran antara pasukan pemerintah melawan pemberontak terus berkecamuk. Dalam pertempuran terakhir yang terjadi di selatan ibukota Damaskus, hari Minggu (26/1), pasukan pemerintah Suriah berhasil menggagalkan upaya penyusupan yang dilakukan pemberontak dan menewaskan lebih dari 100 pemberontak.

Wartawan Press TV yang melaporkan langsung di medan pertempuran menyebutkan upaya penyusupan tersebut terjadi di Distrik Al Qadam, di sebelah selatan Damaskus. Sejumlah besar pemberontak berupaya menguasai jalan raya yang menghubungkan Damaskus dengan perbatasan Yordania. Namun berkat informasi inteligen yang diterima sebelumnya, militer Suriah berhasil melakukan serangan dadakan terhadap mereka. Usai pertempuran, demikian laporan Press TV, lebih dari 100 mayat pemberontak bertebaran di sekitar lokasi pertempuran. Selain menewaskan dan melukai sejumlah besar pemberontak, militer Suriah juga berhasil merampas sejumlah besar senjata seperti senapan mesin, senjata laras panjang, peluncur roket hingga mortir milik pemberontak.

Komandan militer yang memimpin operasi penyergapan mengatakan kepada Press TV bahwa pemberontak juga menggunakan bom-bom mobil dalam serangan tersebut.

Baru-baru ini berbagai media massa internasional melaporkan bahwa pemberontak menggunakan amphetamine, yang di banyak negara digolongkan sebagai obat terlarang, untuk menjaga stamina mereka. Kelompok-kelompok pemberontak yang terafiliasi dengan jaringan terorisme Al Qaida disebut-sebut juga menggunakan berbagai jenis obat-obatan secara ekstensif untuk menambah stamina anggota-anggotanya. Obat-obatan itulah yang dipercaya turut “membantu” para pemberontak untuk dapat melakukan berbagai tindakan ekstrim.

Dalam wawancara dengan media Argentina Clarin bulan Mei tahun lalu, Presiden Bashar al Assad mengatakan bahwa teroris dari 29 negara telah terlibat dalam peperangan melawan pemerintah Suriah. Sementara lembaga kajian militer Inggris IHS Jane’s menyebutkan dalam laporannya September tahun lalu bahwa lebih dari 100.000 pemberontak dari berbagai negara berada di Suriah. Mereka terbagi dalam sekitar 1.000 kelompok. Sekitar 10.000 di antaranya tergabung dalam kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaida.(ca/press tv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL