kudeta burundiBujumbura, LiputanIslam.com — Militer yang berseberangan terlibat bentrokan di ibukota Burundi, Bujumbura, menyusul kudeta terhadap Presiden Nkurunziza, Rabu (13/5). Tembak-menembak terus berlangsung hingga hari Kamis ini.

Pertempuran sengit terjadi di dekat stasiun televisi dan radio milik pemerintah yang diperebutkan kedua pihak.

Panglima militer yang setia kepada presiden, Jendral Prime Niyongabo, Rabu tengah malam mengumumkan keberhasilan militer menggagalkan kudeta. Sebelumnya pemimpin kudeta, Mayjend Godefroid Niyombare, mantan kepala inteligen, mengumumkan keberhasilan kudeta yang dipimpinnya menggulingkan pemerintahan Presiden Nkurunziza.

Presiden Nkurunziza sendiri masih belum diketahui keberadaannya. Ketika berlangsung kudeta, ia tengah berada di negara tetangga Tanzania menghadiri pertemuan negara-negara Afrika Timur. Demikian seperti dilaporkan BBC News, Kamis (14/5).

Kerusuhan dimulai setelah Presiden Nkurunziza mengumumkan rencana mencalonkan diri dalam pilpres yang akan digelar bulan depan, untuk periode ketiga. Hal itu mendapat penolakan luas masyarakat karena melanggar konstitusi yang membatasi masa tugas kepresidenan hanya 2 kali periode. Namun Nkurunziza berdalih, periode pertamanya tidak dihitung karena ia diangkat oleh parlemen dan bukan melalui pemilihan umum.

“Masyarakat menolak dengan tegas mandat tiga periode. Presiden Pierre Nkurunziza telah dibebaskan dari tugas-tugasnya. Pemerintah telah digulingkan,” kata pemimpin kudeta Mayjend Godefroid Niyombare dalam pengumuman yang dilakukan melalui radio, hari Rabu.

Ribuan orang langsung turun ke jalanan merayakan keberhasilan kudeta. Mereka berbaris di jalanan ibukota disertai tentara dan 2 tank.

Namun pada tengah malam Jendral Niyongabo mengumumkan bahwa kudeta telah digagalkan. Itu dilakukannya setelah ia berunding secara intensif dengan Menteri Pertahanan yang mendukung kudeta.

Namun fakta di lapangan jauh dari kedua pengumuman itu. Pasukan yang mendukung kedua kubu saling bentrok, terutama untuk memperebutkan stasiun televisi dan radio milik pemerintah, yang menjadi satu-satunya alat media yang masih beroperasi.

Suara massa riuh di jalanan pada hari Rabu, digantikan oleh bunyi tembakan dan ledakan pada malam harinya. Jalan-jalan sepi dan warga tinggal di rumah-rumah dengan ketakutan.

Masyarakat dengan antusias mendengarkan perkembangan yang terjadi melalui 2 saluran radio swasta yang masih beroperasi. Namun satu di antaranya, radio RPA, langsung ditutup setelah pasukan yang loyal kepada pemerintah menyerangnya. Radio inilah tempat dimana sebelumnya pemimpin kudeta mengumumkan keberhasilan kudeta.

Para pejabat Tanzania mengatakan bahwa Presiden Nkurunziza telah kembali ke negaranya setelah mendengar terjadinya kudeta. Namun keberadaannya sampai saat ini belum diketahui. Beberapa laporan menyebutkan, ia gagal masuk ke Burundi setelah pemberontak mentutup bandara dan wilayah perbatasan.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL