People sit near a fully loaded in Madama near the border with Lybia on January 1, 2015. AFP/Dominique Faget

People sit near a fully loaded in Madama near the border with Lybia on January 1, 2015. AFP/Dominique Faget

Tripoli, LiputanIslam.com – Kelompok militan radikal Anshar Al-Sharia dilaporkan menculik sebanyak 20 warga berkewarganegaraan Mesir, yang saat ini tengah berada di Libya. Kelompok yang mengklaim beraffiliasi dengan ISIS ini, menculik penganut Kristen Koptik, yang bekerja di Libya, namun identitasnya masih belum dikonfirmasi. Dari laporan al-akhbar.com, Minggu, 4 Januari 2014, saat ini terdapat ribuan warga Mesir yang mengadu nasib di Libya, menjadi pekerja baik itu di sektor konstruksi maupun kerajinan/ industri.

Lebih lanjut dinyatakan, sejak munculnya kelompok militan bersenjata dan minimnya kontrol dari pemerintah pusat, telah mengakibatkan ribuan nyawa melayang di Libya. Warga asing pun turut menjadi target.

Pada bulan Februari 2014, tujuh jenazah pekerja Mesir ditemukan di dekat kota Benghazi. Lalu pekan lalu, pasangan suami istri asal Mesir juga ditemukan tewas di Sirte.

Sirte, yang terletak sekitar 500 kilometer (310 mil) sebelah timur dari Tripoli, saat ini masih berada di dalam cengkraman militan radikal.

14 Tentara Libya Tewas

Sementara itu, juga pada hari Sabtu 3 Januari 2015, Anshar al-Sharia juga melakukan serangan terhadap tentara Libya.

“Militan yang beraffiliasi dengan ISIS telah melakukan serangan ofensif. Mereka mengeksekusi tentara Libya dari batalyon infanteri 168,” jelas pihak pemerintah Libya.

“Kami meminta kepada masyarakat internasional untuk membantu memerangi teroris ini,” tambahnya.

Di saat yang sama, sebuah website yang disebut ‘The Islamic State in Libya’ mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan 12 tentara di lokasi yang sama, dan mereka memposting gambar untuk menunjukkan eksekusi yang dilakukan terhadap tentara Libya.

Sejak bulan Agustus 2014, telah tercium upaya ISIS untuk membentuk cabang di Libya, tepatnya di kota Derna.

Empat tahun setelah pemberontakan yang disponsori NATO untuk menggulingkan Muamar Ghadafi pada tahun 2011, Libya terjerumus dalam perebutan kekuasaan dan wilayah antar beberapa kelompok yang saling bertikai.

Intervensi militer yang dilakukan negara-negara Barat di Libya pada tahun 2011, merupakan pintu masuk aliran senjata-senjata kepada militan radikal, dan sekarang, kelompok ini menolak untuk mengakui pemerintahan yang diakui secara internasional, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Abdullah al-Thani.

Pada bulan Agustus 2014, Thani beserta jajaran kabinetnya terpaksa harus hengkang dari Tripoli, lantaran militan Libya Dawn merebut kota itu. Lantas, penguasa yang baru membentuk pemerintahan sendiri, yang disebut General National Congress (GNC), namun tidak diakui oleh PBB dan internasional. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*