libya perangTripoli, LiputanIslam.com — Sekelompok militan bersenjata berhasil menguasai bandara internasional Tripoli, Libya, setelah terlibat dalam pertempuran selama hampir sebulan melawan kelompok militan lainnya.

Kelompok militan Islam dari Misrata mengambil alih bandara tersebut dari tangan kelompok milisi dari Zintan yang telah menguasai bandara itu selama tiga tahun. Demikian laporan BBC News, Minggu (24/8).

Langkah tersebut mendapat kecaman parlemen Libya yang saat ini dikuasai kubu sekuler-nasionalis. Sejak tumbangnya regim Muammar Gaddafi Libya dilanda konflik antara kelompok-kelompok bersenjata yang pada akhirnya mengerucut pada kelompok sekuler-nasionalis dan kelompok militan Islam.

Dalam hampir sebulan terakhir bandara Tripoli yang merupakan bandara terbesar di Libya, ditutup akibat pertempuran.

Ratusan orang telah tewas sejak pertempuran pecah bulan Juli lalu. Jutaan dolar kerusakan pun ditimbulkan oleh pertempuran itu yang di antaranya menghancurkan pesawat-pesawat terbang yang tengah parkir.

Parlemen Libya yang kini berkantor di kota Tobruk untuk menghindari kekerasan, menyebut kelompok yang kini menguasai bandara Tripoli sebagai “organisasi teroris”. Mereka telah berulangkali menyerukan kepada kelompok-kelompok bersenjata untuk meletakkan senjata dan bergabung dengan tentara nasional. Namun sejauh ini hanya sejumlah kecil kelompok yang memenuhi seruan tersebut.

Menyusul kemenangan mereka, jubir kelompok militan dari Misrata, Umar Humaydan, menyerukan kepada parlemen lama yang didominasi kelompok Islamis, untuk bekerja kembali. Ia menyebut hal itu sebagai “langkah untuk menyelamatkan kedaulatan negara”.

Wartawan BBC di Libya melaporkan terjadinya pertempuran di sekitar kota Libya pada hari Sabtu petang (23/8). Suara-suara ledakan juga terdengar berkali-kali di pusat ibukota.

Kemenangan kelompok Islamis ini menjadi pukulan keras bagi kubu nasionalis-sekuler yang dipimpin oleh Jendral Khalifa Haftar yang membangun basis kekuatan di kota Benghazi, kota terbesar kedua di sebelah timur Libya.

Beberapa bulan lalu Jendral Haftar melancarkan offensif besar-besaran melawan kelompok-kelompok Islamis dan pemerintahan yang didominasi kelompok Islamis.

Tentara reguler dan polisi Libya secara kuantitatif tidak sebanding dengan kelompok-kelompok militan. Umumnya mereka mendukung Jendral Haftar.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL