ThamenDonetsk, LiputanIslam.com — Kelompok separatis Ukriana timur merebut pangkalan rudal anti-serangan udara Ukraina di wilayah Donetsk. Demikian laporan kantor berita Rusia RIA Novosti yang dikutip oleh voice of russia, Minggu (29/6).

Kelompok separatis yang menamakan diri Donetsk People’s Republic itu mengaku berhasil menduduki pangkalan militer yang diberi nama A-1402 tersebut. Pangkalan tersebut berupa fasilitas sistem pertahanan udara yang dilengkapi dengan rudal-rudal BUK yang bisa dipindah-pindahkan.

Dalam beberapa hari terakhir, dan di tengah gencatan senjata yang diumumkan pemerintah Ukraina hingga Senin (30/6), kelompok separatis juga telah menguasai 2 instalasi militer milik Ukraina di Ukraina timur.

Belum ada keterangan dari pemerintah Ukraina tentang klaim separatis tersebut.

Sementara itu pimpinan kelompok separatis Lugansk People’s Republic, Valery Bolotov mengatakan hari Minggu (29/6), bahwa pertempuran akan kembali intensif setelah berakhirnya gencatan senjata hari ini.

“Tidak pernah ada gencatan senjata, jadi besok operasi-operasi militer bisa dipastikan akan semakin intensif,” kata Bolotov kepada kantor berita TASS.

Ia menuduh pasukan Ukriana telah melanggar gencatan senjata.

“Di pihak kami, kami telah mematuhi syarat-syarat dalam gencatan senjata sementara pihak lawan tidak memenuhinya,” kata Bolotov.

“Pesawat-pesawat terbang melintasi (Provinsi) Lugansk, militer Ukraina terus mengirimkan pasukan dan senjata dan membomi wilayah kami,” ujar Bolotov lagi.

Ia menegaskan bahwa negosiasi tidak akan membawa hasil sebelum pasukan Ukraina ditarik sepenuhnya dari wilayah konflik di Provinsi Donetsk dan Provinsi Lugansk yang memisahkan diri.

Menurut Bolotov, seiring semakin banyak tentara yang dikirim Ukrina, jumlah pasukan yang melakukan desersi dan bergabung dengan kelompok separatis semakin banyak. Menurutnya tentara reguler Ukraina juga terlibat konflik internal dengan pasukan Garda Nasional, satuan militer yang baru dibentuk pemerintah Ukraina yang sebagian personilnya berasal dari kelompok-kelompok radikal.

“Mereka terlibat dalam konflik berkepanjangan, dan tentara (reguler) terus menerus melakukan desersi. Dalam satu saat terkadang jumlahnya mencapai 200 orang,” tambah Bolotov.

Uni Eropa, Rusia, Ukriana Setuju Teruskan Upaya Damai

Sementara itu Uni Eropa, Rusia dan pemerintah Ukraina setuju untuk meneruskan upaya damai delam mengatasi konflik di Ukraina timur.

Kesepakatan tersebut dicapai setelah terjadinya pembicaraan telepon antara Presiden Ukraina dengan Presiden Rusia, Kanselir Jerman dan Presiden Perancis, hari Minggu (29/6).

Menurut laporan Interfax dengan mengutip keterangan kantor kepresidenan Ukraina, pihak-pihak yang terlibat dalam pembicaraan sepakat untuk berdiskusi kembali tentang rencana perdamaian, pada hari Senin (30/6).

“Dalam pembicaraan itu Presiden Poroshenko mengatakan bahwa Ukraina menghormati komitmennya untuk mengimplementasikan rencana damai sesuai dengan resolusi Dewan Uni Eropa, dan secara sepihak mematuhi gencatan senjata untuk tetap berlaku hingga jam 10.00 tanggal 30 Juni.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL