terotis libyaTripoli, LiputanIslam.com — Pesawat tempur milik kelompok milisi Fajar Libya, hari Minggu (15/3), melancarkan serangan terhadap lokasi gerilyawan ISIS di Kota Sirte, Libya barat, demikian keterangan sumber militer Libya seperti dilansir Antara, Senin (16/3).

“Satu pesawat tempur yang mendukung tentara kami menyerang penjara As-Saba yang berada di pinggiran selatan kota Sirte, tempat anggota ISIS berada. Korban di pihak mereka tak bisa diperkirakan,” kata sumber tersebut yang berasal dari Batalion Infantri Ke-166 Fajar Libya, kepada Xinhua.

“Penjara tersebut digunakan oleh gerilyawan sebagai kamar operasi. Mereka bergerak dari sana untuk menyerang pasukan kami. Disepakati dengan Angkatan Udara untuk menyediakan tameng udara buat tentara kami, jadi kami dapat bergerak ke arah posisi mereka dan merebut kembali tempat yang telah mereka kuasai,” tambah sumber itu.

Sumber tersebut menyatakan bentrokan masih berkecamuk sejak Minggu pagi di daerah Ath-Thahir dan Hrawa, demikian laporan Xinhua.

Bentrokan sengit berkecamuk pada Sabtu (14/3) antara petempur IS dan pasukan Fajar Libya di Kota Sirte. Bentrokan itu menewaskan 20 anggota IS dan dua petempur Fajar Libya, kata satu sumber militer.

Fajar Libya, yang terdiri atas kelompok gerilyawan yang bersenjata, belum lama ini telah berusaha merebut kendali atas Sirte, kota yang terletak 450 kilometer di sebelah timur Ibu Kota Libya, Tripoli.

Libya telah menyaksikan peningkatan drastis kerusuhan setelah tergulingnya pemimpin lama negeri tersebut Muammar Gaddafi pada tahun 2011. Kelompok-kelompok bersenjata yang terlibat dalam penggulingan Gaddafi kemudian terlibat pertikaian sendiri.

Saat ini kekuasaan di Libya terpecah dua, dengan pemerintahan sekuler yang didukung internasional berpusat di Tobruk, Libya timur, sementara ibukota Tripoli dikuasai kelompok-kelompok milisi-Islami Fajar Libya. Kelompok ISIS sendiri baru muncul belakangan, meski benih mereka telah tertanam sejak penggulingan Gaddafi.

Sebagian organisasi yang berafiliasi kepada ISIS telah memanfaatkan keadaan dan merebut kota besar seperti Sirte dan Derna.

Sementara itu dialog antar-rakyat Libya yang dimediasi PBB telah diselenggarakan pada Selasa (10/3) dan Rabu di Aljiers, Ibu Kota Aljazir, dalam upaya mengakhiri perang saudara empat-tahun di Libya.

Selama dialog dua-hari tersebut, 20 pegiat dan pemimpin politik mensahkan Deklarasi Aljiers, yang kembali menegaskan komitmen untuk menghormati proses politik di Libya berdasarkan pengalihan kekuasaan politik secara damai yang demokratis.

Peserta dialog itu juga menyampaikan keprihatinan mereka sehubungan dengan memburuknya situasi keamanan di Libya dan meningkatnya aksi teror.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*