reruntuhan mh17LiputanIslam.com — Dalam beberapa hari terakhir, Ukraina telah kehilangan beberapa pesawat dan helikopter militernya oleh tembakan rudal-rudal jinjing kelompok separatis Ukraina timur.

Sebagaimana dilaporkan LI, pada hari Senin (14/7) misalnya, Ukraina kehilangan pesawat angkut militer Antonov 26. Sebelumnya pada hari Sabtu (12/7) Ukraina juga kehilangan helikopter serbu MI-24 yang ditembak jatuh di kota Snezhny, Donetsk. Pada hari yang sama separatis juga mengklaim menembak jatuh pesawat tempur Sukhoi-25 (Su-25), dalam pertempuran di kota Gorlovka. Ini belum termasuk klaim lainnya yang belum dikonfirmasi tentang jatuhnya pesawat-pesawat dan helikopter tempur Ukraina dalam berbagai pertempuran di Ukraina timur minggu lalu.

Bahkan pada hari Rabu (16/7), atau sehari sebelum jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH-17, Ukraina kembali kehilangan sebuah pesawat tempur SU-25 sebagaimana diakui oleh pemerintah Ukraina. Ini belum 2 pesawat sejenis yang ditembak separatis pada hari yang sama sebagaimana klaim mereka.

Namun kehancuran terbesar angkatan udara Ukraina tentu adalah tertembaknya pesawat angkut militer Il-76 yang menewaskan 49 personil militernya, pertengahan Juni lalu.

Selain “kehancuran” angkatan udaranya, angkatan darat Ukraina juga mengalami “kehancuran” yang tidak kalah hebat. Sekitar 300 tentara Ukraina tewas sepanjang konflik yang pecah bulan April lalu, 250 lainnya menjadi tawanan.

Dan meski militer Ukraina berhasil merebut salah satu kota basis separatisme Slovyansk, diperlukan waktu berminggu-minggu untuk menaklukannya dengan pengorbanan yang tidak sedikit yang dialami militer Ukraina.

Kini militer Ukraina harus berhadapan dengan pemberontak separatis di 2 kota utama gerakan separatisme, Donetsk dan Luhansk, yang selain dipertahankan oleh ribuan milisi separatis, juga didukung sepenuhnya oleh ratusan ribu penduduknya.

Belajar dari alotnya pertempuran di Slovyansk, para jendral Ukraina kini sadar sepenuhnya dengan apa yang bakal mereka hadapi di kedua kota yang pernah menjadi ajang perang kota hebat melawan pasukan pendudukan Nazi Jerman tahun 1940-an: perang kota yang tidak bisa dimenangkannya, atau setidaknya akan menghancurkan sebagian besar sumber daya yang dimiliki Ukraina.

Alexander Golts, pakar militer merangkap editor situs berita Rusia Yezhednevny Zhurnal, mengomentari prospek perang di Ukraina timur saat ini mengatakan:

“Tidak ada yang bisa mengalahkan pasukan paramiliter yang menyatu dengan satu kota, yang secara efektif menjadikan penduduknya sebagai tameng hidup. Amerika melakukannya dan gagal di Mogadishu, Somalia, sebagaimana juga Rusia gagal di Grozny, Chechnya.”

Kalau Golts lebih jauh lagi melihat, ia tentu akan menyebutkan kegagalan pasukan Nazi Jerman menduduki kota Stalingrad (kini Volgagrad) dan kekalahan mereka dalam perang kota Sevastopol Krimea melawan orang-orang Slavia yang tidak lain adalah induk dari bangsa-bangsa Rusia, Serbia dan Donbas (Ukraina timur).

Dan di tengah-tengah kondisi “status quo” itu tiba-tiba terjadilah peristiwa musibah ini. Sebuah pesawat jet penumpang Malaysia Airlines dengan 295 penumpang dan awaknya jatuh di wilayah Donetsk, Kamis (17/7).

Pejabat kementrian dalam negeri, Anton Herashchenko, tanpa ragu menyebutkan pesawat tersebut telah ditembak dengan rudal pertahanan udara BUK-M1 atau yang di negara-negara NATO dikenal dengan nama
Sa-11 Gadfly. Pendapat ini pun disepakati oleh para ahli militer internasional.

Sa-11 Gadfly adalah senjata buatan Rusia dengan spesifikasi rudal jarak menengah dengan jangkauan 30 km dan ketinggian hingga 14 km, sangat cocok untuk menembak jatuh pesawat penumpang yang terbang di ketinggian 10 km.

Pejabat-pejabat Ukraina dan negara-negara barat pun ramai-ramai menuduh kelompok separatis sebagai pelaku penembakan pesawat MH-17 dengan senjata yang disuplai Rusia. Tuduhan tersebut dibantah dengan tegas oleh separatis sementara Rusia justru menuduh Ukraina lah yang memiliki sistem persenjataan Sa-11 Gadfly di wilayah Donetsk, bukan pemberontak separatis.

Lalu apa konsekuensi tuduhan-tuduhan itu?

Insiden penembakan pesawat Malaysia Airlines seolah membenarkan tuduhan Ukraina dan NATO bahwa Rusia telah meningkatkan dukungan, khususnya berbentuk senjata, kepada para separatis Ukraina.

NATO menuduh Rusia terus meningkatkan pengiriman senjata-senjata berat ke kelompok-kelompok separatis melalui perbatasan. Sebagai balasan, AS dan Uni Eropa minggu ini telah mengumumkan pemberian sanksi tambahan terhadap Rusia.

Berdasar tuduhan itu NATO memiliki alasan untuk campur tangah membantu Ukraina. Namun di sisi lain, musibah ini juga bisa mendorong dimulainya perundingan damai antara Ukraina dan kelompok-kelompok separatis. Dengan perdamaian, tidak saja Rusia, AS dan NATO dapat menghindarkan diri dari jebakan perang regional yang menghancurkan mereka, namun juga menghindarkan Ukraina dari tekanan perang yang tidak menguntungkannya.

Atau mungkinkah justru prospeknya berkebalikan? NATO kini memiliki alasan untuk campur tangan untuk membantu langsung Ukraina, sekaligus mendorong terjadinya perang regional yang lebih hebat. Wallahualam.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL