kapal susiJakarta, LiputanIslam.com–Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pantang menyerah dengan upayanya untuk menenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan. Baginya, tak ada kata hubungan bilateral bagi kapal-kapal asing ilegal “pengeruk” ikan.

“Di sini tidak ada urusan bilateral, ini urusan undang-undang negeri Indonesia,” ujar Susi di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, seperti dikutip Kompas, Senin (5/1/2014).

Susi menjelaskan, di belahan dunia mana pun tidak ada negara yang memperbolehkan kapal asing mengambil ikan di wilayahnya. Jadi, hanya di Indonesia kapal-kapal asing bisa seenaknya mengambil ikan di laut. Oleh karena itulah Susi membuat kebijakan yang tegas yaitu dengan menenggelamkan kapal-kapal asing penangkap ikan tersebut.

Baginya, ketegasan tersebut bukanlah cermin bangsa yang barbar melainkan bangsa yang berdaulat. “Pengusaha protes ya, tapi diplomat (negara lain) gak bisa protes, dan tidak usah takut. Tidak usah takut kita ini disebut bangsa barbar. Loh orang TKI (tenaga kerja Indonesia) kita dipulangkan begitu saja kok,” kata Susi.

Bahkan, kata dia, pada bulan Desember lalu Vietnam sempat meminta perlindungan 1.928 kapalnya, dengan 13.000 anak buah kapal (ABK) asal Vietnam di laut Natuna. “Bayangkan sebenarnya besar Vietnam tapi punya kapal 1.928 di sini. Bayangkan (berapa banyak) kapal Cina atau Thailand,” ucap dia.

Selain penenggelaman kapal pencuri ikan, ada alternatif kapal tersebut dilelang. Namun, ini tidak menyelesaikan masalah karena seringkali kapal itu dibeli lagi oleh pemiliknya melalui tangan ketiga. Atau, kapal dijual dengan sangat murah. Hal ini membuat Susi geram.

“Di Meulaboh, kami minta ditinjau kembali empat kapal Thailand yang dilelang dan dimenangkan oleh saudara Hendri dari Muara Baru, Jakarta. Saya minta tinjau ulang PK-nya,” ujar Susi.

Susi menjelaskan, empat kapal yang dilelang di Aceh merupakan kapal Thailand yang ditangkap pada tahun 2014 lalu. Kata Susi, harga keempat kapal tersebut yaitu Rp 136,5 juta, Ulam 5 Rp 127 juta, Ulam 7 Rp 96 juta dan Ulam 9 Rp 104 juta.

Kegeraman Susi juga dilatarbelakangi penjualan kapal tersebut yang hanya Rp 100 juta. Padahal kata dia, harga sebenarnya empat kapal tersebut adalah Rp 800 juta lantaran kapasitasnya yang mencapai 200 gross ton.

Oleh sebab itu, Susi mengaku akan berkoordinasi dengan instansi lainnya agar mampu menindak lanjuti pelelangan tersebut. “Bagusnya mengkaramkannya di laut, jadi kapal-kapal itu tidak bisa ke mana-mana,” tandasnya. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*