kepiting 2Jakarta, LiputanIslam.com – Kebijakan Susi Pudjiastuti terkait pelarangan penangkapan dan ekspor kepiting dan lobster bertelur menuai protes dari pelaku usaha dan eksportir perikanan. Namun ia menyatakan, bahwa ia punya alasan yang kuat atas keputusannya ini.

“Tadi malam orang saya protes, karena ratusan kilo lobster harus dilepas ke laut karena peraturan ini. Di Twitter banyak orang marah-marah kasar,” ujar Susi seperti dikutip dari akun Twitter-nya.

Seperti diketahui, mulai tanggal 7 Januari 2015, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memang mengeluarkan produk hukum berupa Peraturan Menteri KP/2015. Dalam salah satu pasal menyebutkan pelarangan penangkapan lobster dengan ukuran karapas (cangkang) di bawah 8 senti meter dan kepiting dengan ukuran karapas di bawah 15 senti meter serta rajungan dengan ukuran karapas di bawah 10 senti meter.

Dari laporan cnnindonesia.com, 19 Januari 2015, Susi pun menjelaskan maksud dari aturan tersebut. Aturan baru dibuat mengingat hasil produksi dalam negeri dan ekspor yang terus menurun setiap tahunnya. Penurunan produksi tersebut diduga karena kepiting dan lobster yang seharusnya berkembang biak, justru dijual dan dikonsumsi.

“Kalau saya tidak berani keluarkan aturan, 5 tahun lagi kepiting akan habis begitu juga dengan lobster. Sebelum semua terlambat lebih cepat lebih baik,” kata Susi saat dihubungi.

Dengan aturan tersebut, Susi pun optimis produksi kepiting dan lobster dalam negeri akan membaik. Dia bahkan memprediksi aturan tersebut mampu mendongkrak produksi dalam negeri dalam kurun waktu 6 bulan dan mampu memberikan nilai tambah bagi para pelaku usaha.

Susi mencontohkan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai salah satu daerah pengekspor lobster terbesar di Indonesia. Menurutnya rata-rata NTB mengekspor 5 juta ekor lobster dengan bobot 20 gram per ekor atau ukuran kecil dalam kurun waktu satu tahun ke Vietnam. Lobster tersebut dihargai Rp 100 ribu per kilogram.

“Harga baby lobster tadi hanya Rp 100 ribu per kilogram, kalau itu ditunggu besar dengan ukuran 300 gram dikalikan 5 juta ekor dengan harga Rp 500 ribu per kilogram, maka jadi lebih besar untungnya,” jelas Susi. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*