aniesJakarta, LiputanIslam.com — Anies Baswedan, Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikbud ) secara terbuka menyatakan bahwa Kurikulum 2013 (K13) adalah produk setengah matang. Parahnya lagi, produk ini dipaksakan agar berlaku di seluruh Indonesia. Anies juga mengatakan bahwa pihaknya akan menerjunkan tim untuk mendeteksi seberapa mentahnya kurikulum ini di lapangan.

“Saya ini menerima warisan masalah kebijakan implementasi kurikulum,” jelas dia.

Indikasi mentahnya K13 antara lain adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan materi yang diajarkan dalam buku pelajaran. Selain itu, banyak guru yang kesulitan menjalankan evaluasi K13 yang berbasis diskripsi.

Menurut Anies sistem ini mudah dijalankan di Eropa. Sebab jumlah siswa dalam satu kelas hanya 20 anak dan gurunya ada 2-3 orang. Sementara di Indonesia, seorang guru mengajar hingga 40 siswa. Ia menilai, kekurangan K13 itu merupakan buah dari keputusan pemerintah yang tergesa-gesa.

“Hal ini orang yang ditugasi menulis buku dalam waktu yang singkat. Tentu potensi terjadi kesalahan atau bolong-bolong dalam tulisannya semakin besar,” ujarnya, seperti dilansir Jpnn, 18 November 2014.

Terkait urusan buku K13 yang belum komplit pendistribusiannya, bagi Anies adalah gambaran teknis ketidaksiapan implementasi. Dia membandingkan implementasi K13 ini dengan Kurikulum 2006 atau akrab dikenal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum 2006 ini ternyata mulai diterapkan pada 2004. Itu artinya terdapat 2 tahun masa ujicoba sebelum dijalankan secara menyeluruh.

Awalnya, K13 difokuskan kepada 6.400 unit sekolah percontohan dulu. Setelah itu harus ada laporan balik (feedback) dari sekolah untuk dianalisa Kemendikbud. Tetapi yang terjadi adalah, K13 tahun ini dipaksanakan diterapkan di 200 ribu lebih sekolah SD, SMP, dan SMA di seluruh Indonesia.

Kak Seto: Kurikulum 2013 Cetak Calon Psikopat

Kurikulum 2013 juga pernah mendapat kritikan dari pemerhati anak, Seto Mulyadi. Pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini menyatakan bahwa kurikulum ini masih kurang mengembangkan karakter anak.

“Ini akan melahirkan calon-calon psikopat di masa depan. Ini harus diwaspadai betul,” katanya, seperti dilansir Tempo.

Seto menganggap Kurikulum 2013 perlu menambah pelajaran yang mengembangkan otak kanan. “Perlu diimbangi dengan pelajaran yang mengaktifkan otak kanan, seperti seni dan olahraga,” kata dia.

Menurutnya, melalui pelajaran seni dan olahraga, anak dapat mengembangkan karakter disiplin, rendah hati, dan berani mengakui kekalahan. Ia khawatir jika sistem pendidikan kita tidak menangani pendidikan karakter dasar seperti ini, maka semakin banyak orang yang menyandang psikopat.

Seto menganggap pendidikan sekolah maupun pendidikan informal yang diperoleh di keluarga sangat penting bagi anak untuk mengembangkan karakter positif. Pendidikan karakter sejak dini dari keluarga dan sekolah diperlukan supaya tidak muncul anak-anak yang penuh dengan nuansa frustasi,” kata ia menuturkan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL