Tehran, LiputanIslam.com—Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengecam aturan larangan perjalanan AS bagi penduduk Iran dan lima negara bermayoritas Muslim lainnya. Ia menyebut kebijakan itu memperlihatkan watak permusuhan AS terhadap negara Iran.

“AS kini melarang orang tua Iran untuk bertemu anak-cucu mereka… [Itu adalah] perilaku permusuhan yang memalukan terhadap semua penduduk Iran,”  tulis Zarif dalam sebuat tweet pada Jumat (30/6/17).

Kemarin, Pemerintah AS mulai menerapkan larangan perjalanan kontroversial bagi enam negara bermayoritas Muslim meski mendapat pertentangan dari banyak pihak.

Larangan ini diberlakukan pada Kamis (29/6/17) malam, setelah Pengadilan Tinggi AS mengizinkan pemerintah Presiden Donald Trump melanjutkan kebijakan ini.

Larangan ini diberikan kepada warga negara dari Iran, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Juru Bicara Parlemen Iran, Ali Larijani, menantang Washington untuk membuktikan siapa warga Iran yang pernah terlibat dalam aksi terorisme di AS.

“Ada banyak warga Iran yang tinggal, belajar, dan bekerja di AS. Adakah dari mereka yang pernah terlibat terorisme?” tanya Larijani.

Larijani juga mempertanyakan keefektivan larangan perjalanan, bahwa para teroris  “sangat jarang atau tidak pernah” masuk ke sebuah negara dengan membawa nama atau kewarganegaraan.

“Presiden Trump dan pejabat Amerika sadar akan hal ini. Para teroris harus dihancurkan dari sumber utamanya. Di manakah sumbernya? Mereka ada di Afghanistan, Suriah, dan Irak,” lanjutnya. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL