pasukan al-nusra

pasukan al-nusra

Moskow, LiputanIslam.com–Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, menyarankan kepada AS agar pasukan koalisi pimpinan AS  melakukan “aksi bersama untuk merencanakan dan melakukan serangan terhadap Jabhat al-Nusra, yang tidak mendukung gencatan senjata, serta terhadap konvoi senjata dan milisi yang melintasi perbatasan Suriah-Turki.”

Jabhat al-Nusra depan adalah afiliasi al-Qaeda di Suriah. Penawaran yang disampaikan Shoigu pada 19/5 ini sejalan dengan seruan Dewan Keamanan PBB tentang Suriah. Ada banyak resolusi yang menargetkan Jabhat al-Nusra dan pihak-pihak yang mendukungnya. Resolusi 2254, misalnya, menyerukan “Negara Anggota untuk mencegah dan menekan aksi teror yang dilakukan secara khusus oleh Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai Da’esh), Al-Nusra Front (ANF), dan semua individu, kelompok, usaha, dan perusahaan yang terkait dengan al-Qaeda atau ISIL, dan kelompok teroris lainnya … dan untuk membasmi ‘wilayah aman’ mereka …”

Jabhat al-Nusra beberapa waktu terakhir telah mengintensifkan serangan ke seluruh Suriah dan hal ini merupakan pelanggaran gencatan senjata. Terkadang mereka juga bekerja sama dengan kelompok-kelompok Salafi lainnya. Al Nusra dilaporkan berusaha untuk mendirikan “emirat” sendiri di sekitar Idlib dan merayu milisi-milisi Salafi lainnya agar bergabung. Jabhat al-Nusra dan Ahrar al-Sham pada 12 Mei lalu bersama-sama menyerang desa Alawite, Zara, di provinsi Hama dan membantai 19 warga sipil.

Namun mengingat donatur Al Nusra adalah negara-negara Arab yang merupakan sekutu dekat Washington, usulan Rusia ini ditanggapi dingin oleh AS. Juru bicara Pentagon, Jeff Davis, pada 20 Mei mengatakan, “Kami tidak bekerja sama atau berkoordinasi dengan Rusia pada setiap operasi di Suriah. Operasi Rusia mendukung rezim Assad sementara fokus kami adalah semata-mata mengalahkan ISIS.”

Amerika Serikat bahkan telah memblokir inisiatif Rusia untuk memasukkan Ahrar al-Sham dan Jaish al-Islam dalam daftar kelompok teroris, meskipun kedua milisi itu terbukti melakukan kejahatan kemanusiaan di desa Zara. Sementara itu, dilaporkan pula bahwa Labib al-Nahhas, direktur urusan luar negeri Ahrar al-Sham, pernah mengunjungi Washington pada bulan Desember 2015 untuk bertemu dengan ahli think-tank dan pelobi untuk membicarakan posisi kelompoknya di antara para pembuat kebijakan AS. (dw/al-monitor)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL