hamdanBima, LiputanIslam.com — Hamdan Zoelva, Ketua Hakim MK, kini menjadi idola baru kaum hawa, khususnya ibu-ibu. Selama persidangan, sosoknya kerapkali menjadi buah bibir. Sejumlah netizen mengungkapkan, bahwa banyak wanita tertarik menonton sidang sengketa Pilpres lantaran terpesona pada sang Hakim Ketua.

Siapakah dia sebenarnya?

Hamdan Zoelva, lahir di Desa Rato, Kecamatan Parado, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, 52 tahun silam. Sebuah desa yang harus ditempuh dengan menyusuri bukit terjal dan lembah yang curam, 50 kilometer dari kota.

Rumah KH Muhammad Hasan, orang tua Hamdan, jauh dari kesan mewah. Ia dan keluarganya tinggal di  rumah panggung tinggi yang terbuat terbuat dari kayu dengan kolong ditutupi bambu yang disusun rapi, bersebelahan dengan masjid – yang juga terlihat belum direnovasi.

Hamdan adalah adalah sosok yang sangat sederhana, berekspresi datar dan pendiam. Namun dibalik itu semua,  tersimpan sifat teguh dalam memegang prinsip.

Prof. Thib Rayya, kakak Hamdan, menuturkan bahwa ia dididik sejak kecil oleh orang tua dengan kesederhanaan, kejujuran, dan ajaran nilai-nilai luhur agama. Terutama dari ayahnya yang sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas menjadi guru bagi semua anak-anaknya, baik di rumah maupun di sekolah. KH. Muhammad adalah guru di MAN 1 dan SMAN 1 di Bima dan semua anak-anaknya sekolah di tempatnya mengajar.

Dari penuturan saudara-saudaranya, Hamdan sejak kecil sudah dididik untuk sederhana dan bekerja. Anisa, adik perempuan ayah Hamdan, mengisahkan bahwa sejak di Bima, Hamdan sudah biasa mencari kayu bakar di hutan untuk membantu ibunya memasak.

“Sewaktu di Bima saya dan saudara-saudara sudah biasa mencari kayu bakar di hutan. Di Doro Rite. Kalau di sini, di Parado, kayu bakar tak usah dicari ke hutan karena tak jauh dari rumah. Di sini saya biasa ke hutan atau gunung mencari kemiri,” tutur Hamdan.

Menanam Padi dan Membajak Sawah dengan Kerbau

Masa kecil juga dilalui oleh suami dari Nina Damayanti ini dengan menanam padi maupun membajak sawah.

“Menanam padi itu saya sudah biasa diajak. Bukan hanya itu, membajak sawah dengan kerbau pun sering. Di sini membajak sawah dengan kerbaunya beda, bukan dengan satu kerbau dan ada alat bajaknya, tapi hanya dengan kerbau saja. Jadi 15 sampai 20 ekor kerbau disuruh injak-injak tanah sawah. Hanya diinjak-injak saja oleh kerbau. Saya di belakang kerbau-kerbau itu sambil lari-lari”, Hamdan Zoelva mengisahkan.

“Setelah padi menguning saya juga sering menjaga padi agar tidak dimakan oleh burung,” tambahnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Thib Raya. Ia menuturkan bahwa ayahnya selalu melatih dia dan adik-adiknya untuk bekerja. Memikul padi dan beras, menanam singkong, pokoknya kerja. Ayah mengajarkan juga dalam bekerja pada anak-anaknya dengan cara bersaing.

“Di saat tanam singkong, kami diberikan lubang masing-masing. Disuruh tanam pohon singkong di situ. Siapa yang cepat tanamnya dan bagus dia dapat hadiah.”

Hamdan Anak Berprestasi Tapi Tidak Mau Jadi PNS

Ayah Hamdan menuturkan bahwa sejak kecil Hamdan selalu berprestasi. “Sejak dari SD sampai kuliah ia anak yang pintar, selalu berprestasi. Saya selalu membimbingnya belajar, karena saya dulu gurunya langsung, baik di rumah maupun di sekolah. Sembilan anak saya semuanya begitu. Di rumah saya yang ajarkan, di sekolah pun saya ikut mengajar mereka,” tuturnya.

Apakah Hamdan anak yang nakal sewaktu kecilnya?

“Oh tidak, Hamdan anak yang penurut,” jelas Sang Ayah.

“Hamdan itu anak yang luar biasa. Hanya lima anak Bima yang lulus di Unhas. Sementara yang daftar dari Bima ke Makasar itu berkapal-kapal. Bahkan dia waktu lulus di dua kampus sekaligus, yaitu di IAIN dan di Unhas. Dua-duanya dia pilih. Jadi Hamdan pernah kuliah di dua kampus sekaligus. Dan, nilai-nilainya di dua kampus tersebut bagus semua. Hampir nilai 4 semua. Namun, sejak dia aktif di HMI, di semester ketiga nilainya anjlok. Maka, saya suruh dia memilih, antara IAIN atau Unhas. Akhirnya dia memilih di Unhas,” jelas Thib Raya.

“Hamdan berkata pada saya bahwa dia tidak mau jadi PNS. Makanya memilih jurusan hukum internasional pada saat di Unhas. Dia bilang ke saya: cukup kakak saja yang jadi PNS, saya mau di swasta saja,” tambah Thib Raya.

Hamdan Paling Disayang Ayahnya dan Kadang Membuat Iri

Kakak Hamdan juga menuturkan bahwa Hamdan adalah anak yang paling disayang ayah.

“Kadang membuat iri yang lain termasuk saya. Pernah ketika Hamdan nikah dengan adat Sunda ada prosesi sungkeman. Ayah mendoakan Hamdan di atas ubun-ubunnya sampai setengah jam. Capek juga saya yang waktu itu pegang mic. Pun iri padanya, soalnya dulu saja di saat saya kawin tidak pernah didoakan sampai lama begitu,” ujar  Thib Raya sambil tertawa.

“Pernah juga pada saat resepsi nikah, ayah yang pada anak-anak lain tidak pernah hadir di acara resepsi, di resepsi Hamdan seharian ia ada di situ mendampingi bersama ibu. Bikin iri saya lagi, dulu di saat saya kakaknya nikah tidak seperti itu,” tambah Thib Raya.

“Hamdan di saat kecil ke sekolah dibonceng oleh ayah. Karena ia anak kesayangan ayah,” ujar Thib Raya

Sewaktu Kecil Dipanggil China dan Budi

“Hamdan punya face yang beda dibanding anak-anak yang lain. Matanya sipit, makanya dulu sering dipanggil ‘China Makau’,” tutur Thib Raya.

“Panggilan yang lain adalah Budi. Panggilan ini berlangsung sampai Aliyah, bahkan di saat kuliah pun masih ada yang manggil dia Budi. Disebut Hamdan mungkin tidak ada yang tahu, tapi kalau disebut Budi dari Rato Parado tahu,” jelasnya.

“Panggilan Budi berawal dari ayah yang guru Bahasa Inggris sering terima majalah Voice of America. Hamdan suka baca majalah itu. Di majalah itu kalau orang Indonesia identik dengan panggilan Budi. Hamdan selalu mengulang-ulang nama Budi di saat baca majalah. Maka dipanggillah oleh kami dengan Budi,” tambahnya.

Satu Telur Dibagi Empat

Dalam masalah makanan, ayahanda Hamdan mengatakan, sejak kecil Hamdan tidak pernah pilih-pilih makanan. Seadanya saja. Karena mereka dulu hidup sangat sederhana. Bahkan, menurut Thib Raya, di saat kuliah pun ketika orang lain uang bulanannya 10.000 rupiah sementara dia dan Hamdan hanya dikasih 2500 rupiah. Secukupnya segitu.

“Ibu kami pintar. Kami sering mengalami makan dengan telur tapi asapnya saja. Kenapa begitu? Karena hanya ada satu telur tapi biar cukup untuk berempat (waktu itu kami masih berempat, laki-laki semua lagi), telur itu diakali dimasukkan ke air panas. Digodok lalu kami makan dengan telur yang sudah dicampur air panas itu,” kenang Thib Raya.

“Di rumah pun sampai saat ini suami saya tidak pernah pilih-pilih kalau masalah makanan,” ujar Nina Damayanti, istri Hamdan menuturkan. (ba)

—————–

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan ringkasan dari liputan ekslusif Harja Saputra, yang sempat berkunjung ke desa kelahiran Hamdan Zoelva pada tahun 2013. Tulisan aslinya bisa dibaca di sini

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL