biologiLiputanIslam.com — Agustus 2013, kita menyaksikan pembantaian besar-besaran yang terjadi di Ghouta, Suriah, dengan menggunakan senjata kimia. Jumlah korbannya tidak diketahui dengan pasti, karena media memberikan laporan yang berbeda-beda. Pemerintah Suriah dituduh dibalik serangan ini, dan AS siap melakukan intervensi militer dengan alasan kemanusiaan. Namun saat itu, berkat lobby dari Rusia, intervensi dibatalkan, namun konsekuensinya, seluruh bahan kimia milik Suriah harus dimusnahkan. Terakhir terkuak, justru pelaku penyerangan dengan senjata kimia itu adalah pihak pemberontak, yang mengaku mendapatkan perintah dari Pangeran Bandar bin Sultan. [1]

Hari ini, seorang Professor Sultan al-Abidi, Kepala Departemen Fisika Universitas Mosul, Irak, dieksekusi oleh kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di alun-alun kota. Pasalnya, al-Abidi menolak bekerja sama dengan dengan ISIS untuk menciptakan senjata biologi. Rencananya, ISIS akan menggunakan senjata biologi untuk melawan pasukan pemerintah Irak. [2]

Baik senjata kimia, maupun senjata biologi, keduanya digolongkan sebagai senjata pemusnah massal. Senjata biologi adalah senjata yang menggunakan patogen (bakteri, virus, atau organisme penghasil penyakit   lainnya) sebagai alat untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh. [3] Senjata biologi sering disebut sebagai “senjata nuklir orang miskin” (Gould, 1997), yang biaya maupun teknologi yang diperlukan untuk membuat senjata biologis jauh lebih rendah dan mudah dibanding senjata nuklir atau kimia. Walaupun demikian, efek penghancuran massanya tidak kalah hebat. Kementrian Kesehatan mencatat ada beberapa penyakit menular yang potensial digunakan sebagai senjata biologi, misalnya kolera, SARS, dan flu burung.

Kondisi ini mengingatkan kita pada ancaman yang ditebar ISIS beberapa bulan yang lalu. Dilaporkan, dalam berbagai chat-room ISIS, mereka berencana menggunakan Ebola sebagai senjata untuk menyerang Barat. Pemerintah Spanyol sempat mengungkapkan kekhawatirannya terhadap ancaman ini. Francisco Martinez, Sekretaris Negara Bidang Keamanan Spanyol dalam pidatonya berujar, “Internet telah digunakan sebagai alat propaganda ISIS. Mereka mengancam musuh, melakukan pertukaran informasi, merekrut anggota baru dan mendapatkan pasokan dana melalui dunia maya. Ada banyak chat online di kalangan teroris yang membahas penggunaan senjata biologi.”

Anehnya, Menteri Kemanan Dalam Negeri Amerika Serikat (AS) membantah hal itu. “Kami memiliki intelejen yang kredibel, dan tidak ada laporan yang menyatakan bahwa ISIS menggunakan virus apapun untuk menyerang tanah air kita,” ujarnya.

Hal yang sama juga pernah terjadi pada serangan senjata kimia di Ghouta. Gedung Putih mengeluarkan analisis serangan, dan menuding Tentara Suriah sebagi pelaku. Belakangan, laporan dari PBB berkata sebaliknya. Sampai-sampai, Theodore Postol, menyindir intelejen AS yang dibayar mahal namun dianggap tidak becus bekerja.

Bisa jadi pejabat AS meragukan indikasi ISIS menggunakan senjata biologi lantaran hal itu hanya diungkap melalui forum-forum chat di internet. Namun sekarang, kurang bukti apalagi bahwa ISIS memang memiliki agenda melumpuhkan Irak (dan mungkin Suriah) dengan menggunakan senjata biologi? Al-Abidi dibunuh karena menolak bekerja sama dengan ISIS. Namun pastinya, tidak hanya ada satu ahli di Suriah maupun Irak. Bagaimana jika ada ahli lainnya yang bersedia bekerja sama dengan ISIS? Atau, bagaimana jika negara-negara pendukung ISIS menyiapkan ahli dari luar negeri untuk memuluskan agenda ISIS tersebut?

Bukankah kondisi ISIS saat ini sudah semakin melemah dan terdesak pasca Rusia menyerang ISIS dengan menggunakan jet tempur? Dari lapangan dilaporkan, Pangkalan Kuwaires yang telah dikuasai ISIS selama dua tahun berhasil direbut minggu ini oleh pasukan gabungan (SAA, NDF, Hizbullah, Rusia).

Tindakan pencegahan harus dilakukan sedari dini, sebelum semuanya terlambat. Ebola telah menelan 5.000 korban jiwa di negara-negara Afrika. Jika bukan Ebola, masih banyak jenis virus yang bisa digunakan ISIS.

——-

Referensi:

[1] http://news.okezone.com/read/2013/09/01/412/858867/senjata-kimia-suriah-dipasok-arab-saudi
[2] http://www.presstv.com/Detail/2015/11/11/437268/Iraq-University-of-Mosul-Nineveh-physics-professor-Daesh
[3] http://repository.unand.ac.id/22553/3/bab%201.pdf
[4] https://www.rt.com/news/201371-ebola-weapon-isis-terrorism/?

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL