Bripka Seladi

Bripka Seladi

Malang, LiputanIslam.com–Kejujuran dan kesederhanaan agaknya telah menjadi barang langka di negeri ini, sehingga berita mengenai Bripka Seladi memunculkan kehebohan. Brigadir Kepala (Bripka) Seladi, seorang abdi negara yang bertugas di Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kota Malang adalah sosok langka itu. Di tengah posisi yang seolah identik dengan uang suap, dia justru memilih menjadi pemulung. Tak heran bila perhatian publik tersedot untuknya. Dalam beberapa hari terakhir ini ia banyak menerima wawancara dari berbagai media, baik cetak, televisi maupun online.

Setiap hari kerja, dengan sabar dan penuh keikhlasan Bripka Seladi mengajari dan menuntun setiap pemohon SIM agar bisa lulus dalam tes praktik menggunakan kendaraan. Iming-iming “amplop” sebagai tanda terima kasih dari para pemohon yang lulus tes dan mendapatkan SIM atas bimbingannya pun dengan halus ia tolak. Jangankan materi, hanya sekedar ditraktir ngopi pun, Bripka Seladi menolaknya dengan alasan sedang bertugas. Ia tidak ingin pemberian seseorang (pemohon SIM) itu dikait-kaitkan dengan SIM.

Bripka Seladi sudah mengabdi sebagai polisi selama 16 tahun, dan selama itu ia tetap pada sikapnya, karena ia berprinsip itu adalah tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara.

“Saya mengajari mereka murni agar mereka bisa dan lolos mendapatkan SIM. Bukan untuk saya bisa mendapatkan untung. Kasihan karena mereka sangat membutuhkan SIM itu,” kata Seladi, seperti dikutip antaranews.

Padahal, kondisi ekonominya sebagai seorang polisi bisa dibilang masih belum mapan, bahkan kembang-kempis untuk membiayai hidup istri dan ketiga anaknya, serta membayar angsuran bank. Dengan modal pinjaman dari bank yang sampai saat ini masih harus diangsur itu, Seladi membuka usaha penjualan bensin eceran, namun usaha yang dirintis itu gagal karena terbakar. Tetapi Seladi tidak menyerah, berbagai jenis usaha dilakoninya untuk menutup kebutuhan sehari-hari, namun usaha itupun juga gagal. Ia kemudian menjadi pemulung sampah.

“Mungkin saja usaha yang berkali-kali saya rintis dengan modal pinjaman dari bank itu bukan rezeki saya dan mungkin saya diingatkan oleh Tuhan bahwa rezeki di jalur itu bukan hak saya. Ya ini, sekarang rezeki saya dari sampah. Meski kelihatannya buruk, rezeki dari sini halal dan sama sekali tidak merugikan orang lain,” urainya.

Dan, yang terpenting menurut Seladi, sekarang warga Malang sudah banyak yang tahu dan paham, tidak perlu menyuap untuk bisa mendapatkan SIM. Asalkan mereka mampu, pasti bisa. “Hal-hal kecil itulah yang selalu saya pegang teguh agar anak-anak saya kelak juga tidak tergoda dengan hal-hal yang merugikan orang lain,” katanya.

Dengan tetap memegang prinsip kejujuran, Seladi mampu menyekolahkan anak-anaknya. Anak pertamanya saat ini sudah bekerja di RSI Unisma Malang. Anak keduanya, Rizal Dimas Wicaksono (20), lulus D-2 Teknik Informatika Universitas Negeri Malang dan anak ketiganya masih duduk di bangku kelas II SMA.

Anak kedua Seladi, Dimas juga berkeinginan untuk menggantikan profesi ayaknya sebagai seorang polisi dan saat ini sedang berjuang untuk bisa masuk menjadi polisi. “Sebagai seorang polisi mungkin saya tidak banyak uang, tetapi saya sudah cukup bahagia dengan keberadaan anak-anak dan istri saya yang mau menerima apa adanya. Kejujuran tetap harus kami pegang teguh, itu juga yang membuat kami bahagia,” ujarnya. (dw/antara)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL