Michael HeartJakarta, LiputanIslam.com–Seiring dengan kembali memanasnya Gaza, Palestina, akibat brutalitas serdadu Zionis, lagu We Will Not Go Down kembali menarik perhatian warga dunia. Lagu dengan kekuatan lirik dan nada itu dinyanyikan oleh penciptanya sendiri, yaitu Micahel Heart. Siapakah Heart?

Michael Heart, adalah pencipta sekaligus penyanyi Amerika Serikat. Ia lahir di Suriah dan kedua orangtuanya juga berasal dari Suriah. Nama aslinya Annas Allaf, sedangkan Michael Heart adalah nama panggungnya. Heart tumbuh dengan berbagai latar belakang budaya. Ia juga sempat mencicipi kehidupan di Swiss, Austria, Timur Tengah, dan Amerika Serikat.

Heart memperoleh perhatian dunia ketika ia menulis lagu We Will Not Go Down, yang merupakan bentuk simpatinya atas tragedi pembantaian Zionis atas Gaza, yang terjadi pada akhir Desember 2008 hingga Januari 2009.

Untuk mengenal lebih dekat Michael Heart, berikut ini adalah hasil wawancara dengan Heart. Wawancara ini dibuat oleh VIVA empat tahun yang lalu, dan LiputanIslam.com kembali menurunkannya.

Siapa sebenarnya Annas Allaf, dan siapa Michael Heart?

Annas Allaf adalah nama asli saya, adapun Michael Heart adalah nama panggung saya. Sesederhana itu. Ini persis seperti Elton John yang punya nama asli Reginald Dwight. Nama asli Sting adalah Gordon Sumner.

Anda sukses besar dengan lagu Anda tentang serangan Israel di Gaza, “We Will Not Go Down.” Apa reaksi orang-orang terhadap lagu ini?

Sungguh menakjubkan! Dalam waktu kurang dua minggu, lagu itu mencapai setengah juta pemirsa di YouTube, dengan ribuan komentar, dan ribuan email yang dikirim. Lebih penting lagi, isi pesannya secara pribadi sangat luar biasa. Banyak email berasal dari warga Gaza sendiri, mengatakan mereka bisa mendengar bom dari rumah mereka.

Sampai sejauh itu?

Ada banyak orang yang mengatakan “Saya benar-benar menangis saat saya mengetik (imel)…” Itu menjadi minggu yang sangat emosional dan intens. Saya merasa, begitu saya selesai menulis dan merekam lagu itu, saya telah memukul saraf sensitif orang-orang di seluruh. Itu bukan kesengajaan, dan menyebar begitu cepat di seluruh dunia. Saya harus menyebutkan bahwa saya memiliki tim kecil yang membantu saya, bekerja terus-menerus selama beberapa hari untuk menyebarkan lagu dan klip di internet (di situs jejaring sosial, di blog, pada media forum, melalui email, dll).

Mengapa lagu itu diterima oleh seluruh orang di dunia?

Saya pikir kekuatan lagu berasal dari kesederhanaannya. Kuat dan langsung. Sudah jelas bahwa orang perlu mendengar hal itu. Banyak warga Palestina memberitahu saya bahwa lagu itu membawa mereka kemudian merasa tidak merasa sendirian.

Lagu Itu Dibuat Kurang dari 24 Jam

Dalam kesempatan wawancara lainnya, Heart mengaku bahwa lagu itu dibuat dengan sangat cepat.

“Saya menulis lagu itu dan merekamnya dengan cepat. Semua terjadi kurang dari 24 jam. Dan saat saya selesai merekamnya, saya mulai sadar bahwa saya telah menghasilkan sesuatu dengan cepat, sesuatu yang akan sangat berpengaruh dan perlu saya bagikan kepada orang lain. Saya lalu menyatukan semuanya. Dengan budget rendah, kualitas (rekaman) yang buruk, bersama dengan foto slide show yang ada di komputer saya – yang memperlihatkan apa yang terjadi pada korban perang… dan saya langsung mengunggahnya di Youtube,” kata Heart.

Menurut Heart, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan. Bila banyak orang lebih memilih untuk menyuarakan ketidakadilan dengan demo, atau menulis surat terbuka, atau surat protes, dia memilih jalan lain. Sebagai musisi, ia tahu cara yang harus ditempuhnya.

“Ini hanya cara saya menyuarakan soal ini, tentang ketidakadilan yang terjadi. Jika beberapa orang melakukan protes di jalan, dan beberapa orang menulis surat untuk melontarkan protes mereka, (cara) saya adalah menulis lagu,” ujarnya.

“Lagu yang bisa mengubah cara pandang orang, yang berpengaruh kepada orang banyak di dunia ini. Lagu ini bercerita tentang kebenaran. Sayangnya, kebenaran itu memang menyakitkan, tapi tetap saja, kebenaran itu perlu ditunjukkan kepada dunia,” tegas Heart.

Sayangnya, dalam kasus Suriah, Heart justru membela  pasukan pemberontak. Padahal, keberpihakan AS, Inggris, Israel, dan berbagai negara Arab yang bersekutu dengan Israel, kepada para pemberontak (termasuk menyuplai senjata dan dana), menunjukkan bahwa rezim Assad justru menjadi korban Israel. Rezim Assad adalah satu di antara dua rezim Arab (bersama Lebanon) yang menolak berdamai dengan Israel. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL