Santiago, LiputanIslam.com—Pada Senin (11/12/17) kemarin, sekitar dua ribu warga Chile menggelar demo besar-besaran di Santiago dalam rangka memprotes pengakuan Yerusalem al-Quds sebagai ibukota Israel.

Di saat yang sama, Presiden Chile yang tengah menjabat, Michelle Bachelet, mengeluarkan kecaman terhadap kebijakan pemerintah AS itu dan menyebut penjajahan Israel di Palestina “ilegal”.

Kandidat presiden dari sayap-kanan, Sebastian Piñera, juga menggaungkan pernyataan sama dengan Bachelet, bahwa kebijakan Trump itu “meninggalkan solusi dua-negara yang diadopsi PBB dan didukung oleh mayoritas negara dunia.”

Sikap pemerintah dan rakyat Chile yang serempak mendukung Palestina, dapat dilihat dari sejarah kedua negara yang sama terkait dengan kolonialisme dan perampasan tanah. Suku asli Chile, Mapuche, pernah menghadapi ancaman reklamasi tanah, dan setelahnya rakyat Chile berjuang melawan neoliberalisme.

Dalam artikel yang dimuat oleh kantor berita Mintpressnews pada Rabu (13/12/17), seorang pengacara keturunan Palestina-Chile bernama Emilio Dabed, menjelaskan dinamika ini.

Dalam masa-masa penjajahan Spanyol, suku Mapuche diserang secara brutal oleh pasukan penjajah untuk mengusir mereka dari tempat tinggal. Dan selama rezim diktator Pinochet,  suku ini juga dikriminalisasi  dengan hukum anti-teror Pinochet karena berusaha melawan pengusiran.

Melihat kedua kasus ini, rakyat Palestina dan suku asli Chile sama-sama hidup dengan status eksepsi yang dijatuhkan oleh penjajah. Orang-orang terjajah ini tidak dianggap sebagai penduduk sah atau subjek politik, namun sebagai ancaman— sekumpulan orang yang harus dikontrol dengan kekerasan.

Untuk rakyat Palestina, status eksepsi ini dapat dilihat dari Mandat Inggris antara tahun 1936 dan 1948 yang digunakan untuk menekan perjuangan Palestina melawan proyek kolonial Zionis. Dari tahun 1967 setelahnya, militer Israel mengambil langkah lebih besar terhadap rakyat Palestina dalam rangka memadamkan segala bentuk resistensi.

Kedua negara, Palestina dan Chile, sama-sama menjadi arena eksperimen kekerasan. Di Chile, selain kekerasan HAM yang dilakukan oleh rezim Pinochet, agenda neoliberal yang diangkat oleh “Chicago Boys” — sekelompok ekonomis Chile yang dilatih oleh Milton Friedman — membuat Chile mengalami polaritas ekstrem dan ketidaksetaraan sosial.

Anggota Federasi Palestina di Chile, Mauricio Abu Ghosh, yang juga seorang keturunan Palestina-Chile, mengatakan bahwa aktivisme Chile-Palestina meningkat sejak Intifada Pertama pada tahun 1987 dan memuncak pada peristiwa genosida di Gaza pada tahun 2014. Setiap dekade, komitmen dan solidaritas Chile kepada Palestina semakin bertambah.

“Pengalaman kedua negara ini berhubungan dengan hilang nyawa, pemindahan dan pengusiran paksa. Tanggal 11 September 1973 diperingati sebagai salah satu hari paling menyakitkan dalam sejarah kontemporer Chile. Untuk Palestina, peristiwa Nakba, Land Day Deir Yassin, adalah beberapa hari paling gelap di sejarah mereka.” kata Abu Ghosh. (ra/mintpressnews)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL