Islamabad, LiputanIslam.com—Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan kemarahannya kepada Pakistan. Dalam cuitan pertamanya pada tahun 2018 di Twitter, ia menulis AS telah “dengan bodoh memberikan Pakistan bantuan lebih dari $33 milyar dalam 15 tahun terakhir.”

Trump mengecam Pakistan karena “tidak memberikan kami apa-apa selain kebohongan & penipuan, dan berpikir pemimpin kami bodoh.”

Pakisan dituding memberikan tempat yang aman bagi teroris yang “kami kejar di Afghanistan, dengan bantuan yang sedikit…”

Lantas, ada apa sesungguhnya alasan di balik sikap Trump terhadap Pakistan?

Seorang ahli politik dan jurnalis asal London, Adam Garrie mengatakan dalam wawancara dengan Press TV pada Selasa (2/01/18), Pakistan menempatkan Cina sebagai sekutu paling penting, dan bukan AS. Pasalnya, Beijing mengizinkan Islamabad untuk menjalankan kebijakan luar negeri yang independen.

Garrie mencatat, Pakistan juga terus menjalin hubungan yang baik dengan Republik Islam Iran yang merupakan musuh bagi Negeri Paman Sam.

Mengenai kegagalan Amerika Afghanistan, ia menilai hal itu adalah kesalahan orang-orang AS sendiri, yang datang ke Afghanistan pada tahun 2001 tanpa mandat yang nyata sama sekali.

“Sejak awal itu sudah menjadi bencana total,” katanya.

“Mereka [AS] bilang, mereka mencoba mengejar Bin Laden meski Taliban telah mengatakan pada 2001 bahwa mereka akan menyerahkan Bin Laden kepada AS jika protokol tertentu dicapai, dan pemerintah Pakistan sudah hampir pasti mau bekerjasama, jadi seluruh premis keberadaan AS di Afghanistan terlalu dipaksakan sejak awal…” tuturnya.

Menurut Garrie, apa yang sesungguhnya terjadi adalah, AS menginginkan ladang mineral yang sangat kaya di bawah permukaan tanah Afghanistan. Afghanistan adalah negara yang sangat kaya di bawah permukaan, dan karena itulah AS menjadikan negara itu sangat miskin dan berbahaya di atas permukaan tanah.

Saat ini, catatnya, terjadi pembentukan aliansi perdamaian baru di kawasan yang dipimpin oleh Cina, Rusia, Pakistan, dan Iran. Aliasi ini menginginkan AS keluar dari Afghanistan dan melihat stabilitas keamanan di kawasan. Sementara secara ekonomi, Cina berencana membangun One Belt One Road, yaitu jalur rute perdagangan melalui Afghanistan yang akan menghubungkan banyak negara termasuk Tajikistan, Pakistan, Iran dan lainnya.

“AS telah mengetahui hal ini dan mereka ingin mereka [Pakistan] berhenti, karena AS hanya bisa menggunakan kekuatan bully-nya kepada negara-negara yang bergantung secara ekonomi,” lanjutnya.

Kini, melihat sikap Trump kepada Pakistan, sudah jelas bahwa kemarahannya diakibatkan negaranya yang mulai kehilangan pengaruh di Pakistan.

“Hilanglah sudah masa-masa kediktatoran militer di Islamabad yang dibuat AS,” ujarnya. “Pakistan perlahan memperoleh kembali negara dan kedaulatannya.” (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*