Riyadh, LiputanIslam.com–Penasehat Asosiasi Psikolog Teluk, Sheikh Saleh bin Saad al-Lohaidan, baru-baru ini mengatakan kepada sebuah website Saudi bahwa “Jika perempuan mengemudi,… itu akan berakibat negatif ke psikologi mereka sebagaimana penelitian psikologi dan medis menunjukkan bahwa [kegiatan mengemudi] secara otomatis berakibat buruk ke ovarium dan mendorong tulang pinggul ke atas. Itulah mengapa kami menemukan mereka yang sering mengemudi memiliki anak dengan kesehatan buruk.”

Komentar sheikh ini merefleksikan masalah utama di Arab Saudi sekarang: Perempuan dilarang mengemudi, dan banyak dari mereka sangat ingin diperbolehkan.

Pembatasan ekstrem terhadap perempuan di Arab Saudi memang kelihatan aneh: Tidak seperti di Afghanistan di bawah cengkeraman Taliban, contohnya, perempuan Saudi tidak dibolehkan belajar atau bahkan bekerja. Dan perempuan diperbolehkan mengemudi di negara Islam lain seperti Iran.

Jadi, mengapa perempuan Saudi dilarang mengemudi?

Arab Saudi menganut Wahabisme, sebuah kepercayaan yang menekankan pemisahan antar kedua jenis kelamin dan pengerudungan perempuan (yang menutupi seluruh tubuh dan wajah). Pada 1990, perempuan Saudi mulai menuntut reformasi sosial, termasuk hak untuk mengemudi, namun polisi agama bersikap lebih tegas dengan melegalkan pelarangan mengemudi.

“Hal ini kemudian dikatalisasi oleh kampanye moral yang memperkuat kepercayaan bahwa istri dan ibu sholehah yang ideal adalah yang terpencil,” kata Jaime Kucinskas, dosen agama dan sosial di Universitas Indiana. “Pemerintah Saudi merilis program TV yang memperlihatkan anak-anak perempuan bernyanyi dengan bangga bahwa mereka perempuan dan tidak mengemudi.”

Organisasi HAM Wanita telah melakukan sejumlah demonstrasi kecil untuk meminta pemerintah melegalkan perempuan untuk mengemudi, namun sejauh ini tidak ada pencapaian yang berarti. Sebuah kampanye terbaru mengajak para wanita berkumpul dalam unjuk rasa pada 26 Oktober lalu, namun pemerintah Saudi menutup website kampanye tersebut.

Raja Abdullah sempat melakukan sejumlah perubahan pada 2009, dengan menunjuk menteri deputi perempuan dan membuka universitas yang tidak memisahkan perempuan dan laki-laki. Namun, ulama setempat menentang kebijakan sang raja karena dinilai terlalu progresif.

“Nilai ideal dalam keshalehan wanita dihubungkan dengan rumah, perlindungan, dan pengasingan,” kata Kucinskas. “Sedangkan mengemudi menyimbolkan hal sebaliknya: kebebasan perempuan di ranah publik.”

“Pemisahan publik antara laki-laki dan wanita adalah identitas nasional Saudi dan dilihat oleh Saudi sendiri sebagai ciri mengapa golongan mereka lebih unggil dibandingkan  negara Barat atau negara bermayoritas Muslim lainnya.” ucapnya. (ra/theatlantic.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL