lendmanWashington, LiputanIsam.com–Pemilihan suara di AS bukan suatu hal yang penting, melihat seleksi kepresidenan selalu bisa diubah sesuai keinginan partai pemerintah. Demikian kata Stephen Lendman, analis dan penulis Amerika, dalam wawancara dengan Press TV, Sabtu (22/10/16).

Berdasarkan survey dari Rasmussen yang dirilis pada Jumat lalu, dua hari setelah debat presiden, presentase pemilih Donald Trump langsung menanjak memimpin lawannya, Hillary Clinton, yaitu 43% lawan 41%.

Lendman berpendapat, memenangi jumlah total suara, namun kalah dalam sistem electoral sehingga akhirnya kalah dalam pemilu, bukanlah hal baru dalam politik AS.

“Hal itu mungkin terjadi dan [memang] pernah terjadi dalam sejarah AS,” kata Lendman. “Sejarah Amerika dalam memanipulasi pemilihan suara sudah berlangsung lama.”

“Di samping itu, Amerika adalah negara dengan satu partai; itu adalah duopoli pemerintahan dengan dua sayap; dan dalam banyak hal, perbedaan antara partai Republik dan Demokrat tidak begitu signifikan untuk dipermasalahkan,” katanya.

“Gagasan bahwa Amerika adalah negara demokrasi… hanyalah sebuah fantasi. Sejak awal, Amerika memang tidak didirikan sebagai negara demokrasi.” tutupnya. (ra/presstv)

DISKUSI:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL