anak-anak di kamp pengungsi di Damaskus

LiputanIslam.com—Reporter Telegraph, sebuah media terkemuka Inggris bernama Peter Oborne yang meliput langsung ke Damaskus pada 2014 menemukan bahwa semua orang ia wawancarai mendukung Assad. Mulai dari penjaga toko, pelajar, tentara, dokter, dokter gigi, anggota parlemen, para menteri, bahkan politisi dari partai oposisi [oposisi demokratik, menolak perang] semua menyatakan dukungannya kepada Assad.

Di antara yang diwawancarai Oborne adalah anggota parlemen independen, Maria Saadah, mantan arsitek yang karirnya pernah terhambat karena ia bukan anggota Partai Baath. Awal mula Maria terjun ke politik justru demi mereformasi sistem politik di negaranya. Kini Maria menyatakan akan mendukung Assad karena di antara 2 pilihan, milisi bersenjata yang didukung asing atau kedaulatan bangsa, dia memilih yg kedua.

Laporan tersebut sesuai dengan fakta bahwa pada Pemilu 3 Juni 2014 Assad kembali terpilih dengan 88,7% suara. Turn-out vote saat itu atau jumlah orang dengan hak pilih yang datang ke kotak suara adalah 73,42%  atau sekitar 10,2 juta orang.

Pertanyaannya, selain masalah pilihan di antara dua: pemerintahan Assad yang sekuler dan pluralis atau khalifah versi Al Nusra, ISIS, dan FSA (di antara mereka juga saling berseteru), adakah faktor lain?

Menurut penelusuran LI, ada faktor penting yang menyebabkan mayoritas rakyat Suriah selama enam tahun konflik ini terus berdiri bersama presiden mereka, yaitu perlindungan yang diberikan pemerintah kepada mereka dalam segara keterbatasan.

Sementara dunia internasional disibukkan oleh “empat juta” orang Suriah yang mengungsi ke Eropa, mereka lupa dengan nasib lebih dari 6 juta warga Suriah yang menjadi pengungsi di dalam negeri. Angka 4 juta pengungsi Suriah ke Eropa pun sebenarnya masih diragukan, angka ini dimunculkan oleh media mainstream dan LSM-LSM pendukung perang Suriah. Kenyataannya, gelombang pengungsian dari negara-negara Muslim ke Eropa telah dimulai sejak 2011, yaitu sejak tergulingnya Qaddafi. Data UNHCR menyebut bahwa selama 2014 saja, total 3500 migran (dari berbagai negara) tewas dalam upaya mereka mencapai Eropa. Pada 27 Agustus 2015, dua kapal yang mengangkut 500 migran tenggelam di perairan Zuwara, Libya. Sebelumnya, pada Februari 2015, 300 migran dari Afrika Utara tenggelam di laut Mediterania, berasal dari Pantai Gading, Senegal, Gambia, Niger, Mali, dan Mauritania (data dari International Organisation for Migration-IOM). Sedemikian masifnya gelombang pengungsi dari Afrika ini, sampai-sampai Italia sejak Oktober 2013 meluncurkan operasi khusus bertajuk Mare Nostrum, segera setelah terjadinya tragedi Lampedusa di mana 366 migran tewas tenggelam.

Data dari BBC menyebutkan, sepanjang 2014-2015, pengungsi Suriah ke Eropa berjumlah 106.039 orang, Afghanistan 61.826, Pakistan 6.641, Kosovo 23.260, Eritrea 23.878, Nigeria 10.747, dan negara-negara Sub Sahara Afrika lainnya 9.766. Selain itu, lebih dari 300.000 orang meninggalkan Libya pada Januari-Agustus 2015, dan angka ini meningkat 40% dari tahun 2014.

Para Pengungsi Dalam Negeri Suriah

Di dalam negeri, seiring berbagai kejahatan yang dilakukan oleh para petempur asing yang mengklaim diri sebagai mujahidin, warga asli Suriah terpaksa mengungsi ke berbagai kota. Artinya, mereka mengungsi, tapi tetap di dalam negeri. Yang dilakukan oleh pemerintah Suriah adalah menyediakan kamp pengungsian, makanan, mendirikan sekolah darurat, perawatan kesehatan, dan bahkan uang bantuan rutin kepada para pengungsi itu.

Pada tahun 2013 saja, tahun kedua perang, sudah ada ratusan kamp pengungsi yang dibangun di berbagai penjuru Suriah, memanfaatkan bangunan sekolah, gedung perkantoran, mesjid, atau gereja. Tak banyak yang tahu, Masjid Al-Eman di Damaskus, dimana seorang “mujahidin” meledakkan dirinya sendiri sehingga menewaskan ulama besar tingkat dunia, Muhammad Saeed Ramadan Al Bouti beserta 52 muridnya, di bagian bawah (basement)-nya adalah tempat penampungan 12 keluarga pengungsi.

Di pinggiran kota Damaskus, ada 160.000 keluarga pengungsi yang terdaftar menjadi tanggungan pemerintah dan setiap hari mendapatkan suplai pangan dan berbagai bantuan lainnya. Sementara itu, bantuan dari berbagai lembaga internasional tidak masuk ke Suriah. Bantuan dari masyarakat Indonesia yang diperkirakan sudah mencapai ratusan miliar, ternyata sebagian malah ditemukan di gudang makanan milik “mujahidin” Jaish al Islam dan sebagian lain diberikan kepada orang-orang yang berpose bersama milisi Free Syrian Army (Baca: Melacak Aliran Dana ke Suriah dari 10 Lembaga Amal di Indonesia)

Di kota Adra (30 kilometer dari Damaskus) pada 2013 dibangun 1.200 unit perumahan darurat di lahan seluas 150 acre untuk menampung keluarga-keluarga pengungsi dari Homs dan pinggiran Damaskus. Tragisnya, kota Adra kemudian pada akhir tahun 2013 (tepatnya tanggal 11 Desember) menjadi ladang pembantaian sadis yang dilakukan oleh “mujahidin”. Mereka awalnya menyerang kantor polisi dan membunuh semua aparat yang ada di dalamnya. Mereka kemudian melanjutkan serangan ke Klinik Umum, dimana mereka memenggal kepala seorang perawat yang dituduh pro-Assad, lalu kepalanya digantung di sebuah pohon di pasar Adra. Kemudian, kepala-kepala terpenggal lainnya ditambahkan di pohon itu.

Dengan demikian, rakyat menyaksikan dan merasakan sendiri, seperti apa perilaku sadis para “mujahidin” itu dan sangat wajar mereka memilih berpihak kepada pemerintah yang menyediakan rumah darurat dan pangan.

Perlindungan pemerintah Suriah kepada rakyatnya sendiri yang menjadi pengungsi akibat kejahatan perang negara-negara adidaya melalui pasukan “boneka” mereka (para “mujahidin”) sesungguhnya juga tidak aneh. Karena, sebelum perang pun Suriah dikenal sebagai negara yang sangat peduli pada pengungsi.

Populasi Suriah sebelum perang adalah 24 juta orang, 1,2 juta di antaranya adalah orang-orang Irak yang melarikan diri dari konflik yang diciptakan AS di Irak sejak 2003. Suriah juga menampung 600.000 pengungsi Palestina sejak awal mula berdirinya Israel. Sejarah mencatat bagaimana  milisi-milisi teroris Israel, Haganah dan Irgun (yang kemudian menjadi militer resmi Israel atau IDF) dengan kebrutalan ala Al Qaeda telah melakukan pengusiran dan pembunuhan kepada warga asli Palestina. Pasca serangan brutal Israel ke kamp pengungsi Palestina di Lebanon tahun 1978, mereka juga mengungsi ke Suriah. Negara ini juga menerima ribuan orang Armenia, Chechnya, Yaman, Sudan, dan berbagai negara konflik lainnya.

Bila Assad (ayah dan anak) selama puluhan tahun bersedia menampung jutaan orang-orang asing dan melayani mereka dengan baik, apakah masuk akal bila dikatakan keduanya pemimpin brutal yang membantai rakyatnya sendiri semena-mena? (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL