erdogan-jokowiPresiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Indonesia selama tiga hari pada 31 Juli hingga 2 Agustus. Kunjungan Erdogan ke Jakarta sebenarnya bukan pertama kali. Erdogan tercatat sebelumnya sudah tiga kali bertandang ke Indonesia ketika menjabat Perdana Menteri. Namun, dalam kapasitasnya sebagai Presiden, kunjungan kali ini adalah perdana.

Agenda kunjungan Erdogan di Indonesia adalah peningkatan kerja sama ekonomi, intelejen, dan keamanan. Dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi, Erdogan membahas soal kerja sama penanggulangan Islamic State of Irak and Syria (ISIS). Menurut Jokowi, kerjasama ini dilakukan karena banyak warga negara Indonesia yang menuju Suriah melalui Turki untuk bergabung dengan ISIS.

“Oleh sebab itu, tadi kita juga minta agar ada kerja sama intelejen, kerja sama informasi dan kita juga minta ada nanti yang kita tempatkan di sana,” kata Jokowi usai bertemu dengan Erdogan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 31 Juli 2015.

Isu ISIS juga menjadi hal yang disorot oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dalam konfrensi pers bersama Jokowi. Menurut dia, saat ini di kawasan Timur Tengah mengalami masa sulit, terutama di Suriah, Irak, Iran dan Mesir karena disebabkan oleh serangan ISIS. Apalagi pengikut ISIS juga ada yang berasal dari Indonesia. Erdogan mengajak Indonesia bekerjasama menghalangi arus jihadis ke Turki.

Sikap Erdogan ini tentu menarik dikaji. Mengingat, sejak awal konflik Suriah tahun 2011,  justru Turki-lah yang menjadi fasilitator bagi kelompok-kelompok bersenjata, mulai dari Free Syrian Army, kelompok jihad Al Nusra, hingga ISIS yang baru terbentuk belakangan. Bahkan senator AS, John McCain dan tentara AS masuk diam-diam bertemu dengan FSA dan Al Nusra dengan melewati Turki.

Keterlibatan Turki dalam mendukung kelompok teroris transnasional ISIS sudah tidak dapat dibantah lagi. Video yang dilansir oleh DW, kantor berita Jerman, memperlihatkan realita tersebut. Tampak truk-truk sarat muatan, yang berisi makanan, pakaian, dan barang-barang lainnya melintasi perbatasan Turki. Barang-barang itu diturunkan di suatu tempat, yang tidak jelas siapa yang mengambilnya. Namun awak kargo meyakini, barang-barang itu akan diambil oleh ISIS. Menurut DW, barang-barang dari Turki yang berhasil diselundupkan ke Suriah jika diuangkan berkisar 1 miliar dollar. Minyak, senjata, dan para petempur, sering kepergok melintasi perbatasan Turki –Suriah. Saat ini, relawan Kurdi mulai berpatroli di daerah tersebut guna menghambat pasokan tersebut jatuh ke tangan ISIS.

Seperti pernah diberitakan Liputan Islam, surat kabar Turki BirGün merilis pengakuan seorang mantan ISIS yang mengatakan bahwa kawanan bersenjata yang bercokol di Suriah dapat dengan leluasa keluar masuk ke Suriah melalui perbatasan Turki tanpa ada kendala apapun.Anggota ISIS berusia 29 tahun yang tak disebutkan nama atau julukannya itu mengaku bergabung dengan ISIS pada tahun 2014. Sejak itu dia sendiri sudah dua kali ke Turki, dan selama sembilan bulan ikut berperang di barisan pasukan ISIS di Irak dan Suriah.“Karena ISIS berperang melawan PKK (Partai Pekerja Turki yang beroposisi terhadap pemerintah Turki), Turki tidak menerapkan kendala apapun bagi keluar masuk ISIS melalui perbatasan Turki-Suriah,” ujarnya.

Mengenai kemungkinan ISIS juga akan terlibat konflik dengan Turki, dia mengatakan,“Karena dapat keluar masuk melalui wilayah Turki, ISIS memandang negara ini sebagai sahabat. Ini fakta.”

Dia menambahkan, “ISIS memandang pemerintah Turki sebagai pemerintahan thaghut, namun tidak menghendaki perang atau operasi militer melawan Turki. Di pihak lain, karena ISIS memerangi PKK, Turki menyediakan kemudahan bagi lalu lalang ISIS.”

Kebijakan standar ganda pemerintah Ankara terkait ISIS mengundang kritikan dari negara-negara sekutunya di Barat serta kubu-kubu oposisi Turki sendiri. Lalu bagaimana sikap Indonesia? Tentu saja, kita ambil yang sesuai dengan kepentingan NKRI. Keberadaan anggota ISIS di Indonesia sangat membahayakan karena kita tentu tidak ingin menjadi Suriah atau Irak. Kerjasama dengan Turki, terutama di bidang intelijen, dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi WNI yang menjadi anggota ISIS untuk kemudian diproses hukum secara tegas di Indonesia. (dw/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL