impor-bahan-mie-instan-tinggi-gandum-nuklir-bisa-jadi-pilihan

foto: merdeka

LiputanIslam.com — Puluhan tahun merdeka, industri food ingredient atau bahan baku makanan di Indonesia masih sangat tertinggal, sehingga harus mengimpor dari luar negeri. Ir. Adhi S. Lukman, Chairman Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia mengatakan, hingga saat ini, 60% bahan baku makanan berasal dari luar negeri.

“Dengan jumlah penduduk yang besar dan kekayaan sumber daya alam, Indonesia  berpotensi menjadi basis produksi dan distribusi food ingridients, baik dalam maupun luar negeri,” kata Adhi, Kamis (16/10/2014) seperti dilansir Tribunnews.

Apalagi, Indonesia dihadapkan pada era pasar bebas, sehingga pengusaha Indonesia diharapkan mampu memproduksi makanan dengan bahan olahan sendiri.

“Penggunaan cara yang inovatif dan efisien akan sangat membantu perekonomian negara. Di samping itu, tidak perlu harus mengimpor bahan baku,” kata Adhi.

Seperti diketahui, bahan baku makanan ini digunakan dalam produksi ‘makanan rakyat’ seperti mie instan dan tempe. PT Indofood Sukses Makmur, produsen mi instan terbesar di Tanah Air misalnya, menyerap 300.000 ton gandum impor saban bulan untuk memenuhi permintaan pasar. Perusahaan itu beberapa kali mengatakan membuka lahan gandum sendiri kurang ekonomis dibanding membeli dari luar negeri.

Data Kementerian Perdagangan, impor bahan pangan tertinggi sepanjang 2013 adalah gandum, mencapai 6,3 juta ton senilai USD 2,3 miliar. Australia jadi pemasok gandum terbesar buat Indonesia, mencapai 4,4 juta ton, disusul Kanada (930.600 ton), India (107.500 ton), dan Ukraina (30.500 ton).

Lalu tempe, yang diasosiasikan sebagai makanan ‘murah’ yang dikonsumsi masyarakat menengah kebawah, ternyata bahan bakunya yaitu kedelai, juga harus diimpor dari luar negeri.

Pada tahun 2013, Indonesia mengalami defisit kedelai sebanyak 1,3 juta ton. Untuk menutupi defisit tersebut, Kementan terpaksa mengimpor sebanyak 1,2 juta ton kedelai dari sejumlah negara.

Solusi: Tingkatkan Kualitas Produksi Pertanian

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengaku punya solusi buat mengurangi ketergantungan pemerintah, khususnya pada komoditas gandum impor. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Utama Kajo bercerita program kemitraan dengan petani di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, sukses menghasilkan gandum berkualitas tidak kalah dari produk impor.

Varietas gandum itu bisa bertahan di iklim Indonesia karena sebelumnya dimutasi dengan sinar gamma, hasil teknologi Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN).

“Tiga minggu lalu saya berhasil panen gandum Indonesia. Itu tujuh hektar hasil menanam selama tiga bulan. Ini gandum hasil mutasi dan sudah disesuaikan dengan iklim Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Jumat (19/9/2014). (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL