Foto: For Mother Syria

Foto: For Mother Syria

LiputanIslam.com— Setahun sudah Amerika Serikat dan sekutunya melakukan invansi militer secara langsung kepada Suriah, dengan dalih memerangi kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Namun bukannya ISIS habis diberangus, justru kelompok ini tetap eksis. Justru, semakin banyak jatuh korban jiwa dan kerusakan di Suriah.

[Klaim AS: melakukan invansi militer untuk memerangi ISIS di Suriah]

Di lain pihak, Rusia akhirnya membenarkan terkait bantuan senjata-senjata Rusia yang  menuju Suriah bersamaan dengan bantuan kemanusiaan. Jumlah peralatan militer Rusia yang dipasok ke Suriah antara tahu 2009 hingga 2011 sudah mencapai 71 persen dari kebutuhan militer Suriah. Hal itu mencakup pesawat-pesawat jet tempur untuk pertahanan udara.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Suriah sudah kacau akibat ulah kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan pasukan Suriah yang bisa diandalkan untuk mengatasi kelompok radikal itu.  ”Ancaman datang dari ISIS. Satu-satunya kekuatan yang mampu melawan itu adalah angkatan bersenjata Suriah,” katanya. Untuk itulah, Rusia tetap mendukung pemerintah Suriah.”

[Klaim Rusia: memasok senjata untuk Suriah guna memerangi ISIS]

Baik Rusia dan Amerika Serikat memiliki klaim yang sama, yaitu sama-sama turun tangan untuk memerangi ISIS. Namun jalan yang mereka tempuh sangatlah berbeda. Untuk memahami posisi ini, Press TV mewawancarai Prof Michel Chossudovsky, dari Center for Research on Globalization.

Press TV: Rusia telah menyerukan kepada dunia untuk membantu pemerintah Suriah dalam memerangi teroris ISIS, namun AS seolah-olah tuli. Di lain sisi, Presiden AS mengatakan bahwa strategi Rusia di Suriah akan gagal. Mengapa Barat sangat menentang strategi Rusia, dan mengapa Barat begitu khawatir atas hal ini?

Chossudovsky: Pertama-tama kita harus jeli membedakan. Agresi militer AS terhadap sebuah negara berdaulat atas nama ‘mandat kemanusiaan’ dan ‘memerangi ISIS’, padahal kita semua mengetahui, ada berlimpah dokumen yang menunjukkan bahwa AS dan sekutunya yang mendukung dan membiayai ISIS.

Sedangkan apa yang dilakukan Rusia saat ini merupakan perwujudan kerjasama bilateral dua negara berdaulat di bidang militer. Antara Suriah dengan Rusia telah terjalin kerjasama selama bertahun-tahun, bukan hal yang baru.

Rusia memiliki pangkalan angakatan laut di Mediterania dan juga memberikan sitem pertahanan udara S-300 untuk Suriah. Mereka juga bekerjasama yang memfokuskan pada pelatihan dan penggunaan senjata. Saya tidak berpikir akan terjadi pengerahan pasukan darat. Hal itu tidak akan terjadi.

Berkaitan dengan Obama. Sejak September tahun lalu, AS dan sekutunya telah menyerang Suriah dan Irak. Laporan resminya, mereka telah melakukan 53.000 serangan udara dan 6.700 kali serangan mendadak.

Saya menduga dari 53.000 serangan ini, yang sebenarnya terjadi adalah AS dan sekutunya memberikan pasokan senjata kepada ISIS, yang merupakan binaan mereka. Tujuan AS memberikan senjata adalah untuk memerangi pasukan Suriah.

Press TV: Mengapa ada negara-negara yang ingin bergabung dengan AS untuk menyerang Suriah? Jumlahnya bahkan telah meningkat.

Chossudovsky: Anda mungkin telah mengetahui bahwa AS menggunakan strategi untuk memilih sekutunya, atau katakanlah negara-negara yang akan mewakili mereka melakukan pekerjaan kotor dalam sejumlah medan perang. Mereka memiliki dukungan dari Arab Saudi dan Qatar. Mereka juga didukung oleh sekutu dari Eropa dan juga Kanada. Saya rasa, pemimpin negara-negara tertama yang menganut sistem demokrasi harus ditanyai, “Siapa yang sebenarnya kalian dukung?”

Jelas dan terang benderang, mereka mendukung teroris ISIS. Serangan demi serangan tidaklah ditargetkan kepada ISIS.

Pernyataan Chossudovsky di atas bukanlah pepesan kosong. AS dan sekutunya telah berulang kali tertangkap basah telah mengirimkan senjata kepada kelompok teroris ISIS. Ulasannya bisa dibaca di sini.

Dan jika AS memang serius hendak memerangi ISIS, lalu mengapa mereka melakukan serangan dari udara, dan bukan bekerja sama dengan Tentara Suriah yang memerangi ISIS di jalur darat? ISIS, Al-Nusra dan segenap affiliasinya, adalah kelompok yang bergerilya, bersembunyi, dan berpencar-pencar. Mungkinkah rudal yang tak bermata, bisa membedakan antara teroris dan warga sipil?

Presiden Bashar al Assad bahkan pernah mengkonfirmasi dalam sebuah wawancara, dan data tersebut juga dirilis oleh Wall Street Journal, bahwa semenjak invansi militer AS dan sekutunya ke Suriah, justru yang terjadi ISIS semakin membesar.

“Apakah AS benar-benar memerangi terorisme di kawasan? Sejauh ini, kami belum melihat sesuatu yang konkret meskipun ada serangan terhadap ISIS di bagian utara Suriah. Tidak ada yang konkret. Apa yang kami lihat sejauh ini hanyalah sebuah kedok, tidak ada yang nyata. Sejak serangan ini, ISIS justru mengontrol lebih banyak wilayah di Suriah dan Irak,” ungkap Bashar al Assad, di sini.

Baik Rusia dan AS boleh-boleh saja memiliki klaim yang sama. Namun mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL