Kota Meksiko, LiputanIslam.com–Seorang politisi sayap kiri, Andres Manuel Lopez Obrador, telah dipilih oleh rakyat Meksiko menjadi presiden baru. Obardor, yang merupakan pengkritik keras Donald Trump, kemungkinan akan bersekutu dengan pemerintah sosialis di Amerika Latin dan menjalin kedekatan dengan China dan Uni Eropa.

Obrador, yang biasa dipanggil dengan AMLO, berhasil mendapatkan sekitar 53 persen suara dalam pemilu tahun ini.

Dalam kampanyenya, ia membentuk koalisi dengan sejumlah kelompok kiri dan konservatif, dan berjanji untuk menyelesaikan masalah-masalah utama di Meksiko, seperti kemiskinan, korupsi, kejahatan, dan narkoba.

Mengenai masalah migrasi, AMLO membahasnya dalam pidato kemenangannya. Ia mengecam AS karena memperlakukan warga Meksiko sebagai “orang bawah.” Ia pun berjanji menyelesaikan masalah ini dengan cara memperbaiki kehidupan warga miskin di Meksiko.

Presiden Trump telah mengucapkan selamat atas kemenangan AMLO, dan mengatakan bahwa keduanya mungkin bekerja sama menyelesaikan isu perbatasan.

Meskipun begitu, AMLO dengan tegas memperingatkan bahwa dia tidak akan diam jika Trump terus menggunakan “kebijakan kebencian”  dan “menghina” warga Meksiko.

Menurut Profesor Sejarah Afrika Amerika di Universitas Houston, Gerald Horne, Meksiko memiliki banyak opsi jika hubungan dengan AS tidak berjalan lancar.

“AMLO punya lebih dari satu kartu untuk dimainkan. Pertama, saya memperkirakan dia untuk mempererat hubungan dengan China, kedua dengan Jepang, ketiga dengan Uni Eropa,” kata Horne kepada RT.

Kemenangan AMLO, menurut Horne, merupakan sinyal kebangkitan pemerintah sosialis di  Amerika Latin, dan pasti “akan membuat Washington tidak bisa tidur.”

“[Kemenangan AMLO] menghidupkan kembali sayap kiri di Amerika Latin, yang telah menderita selama bebepa tahun terakhir karena pemakzulan Dilma Rousseff di Brazil dan Kirchner di Argentina. Kini kita punya negara ekonomi terbesar kedua di Amerika Latin dan negara berbahasa Spanyol terbesar, yang kini dapat bersekutu dengan Kuba, Venezuela, Bolivia dan Nicaragua,” paparnya. (ra/rt)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*