police shootingNew York, LiputanIslam.com — Media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), baru-baru ini melaporkan terjadinya peningkatan kejahatan besar-besaran di seluruh wilayah AS terkait dengan aksi-aksi protes terhadap polisi. Hal ini sekaligus mengakhiri periode selama 2 dekade dimana angka kriminalitas mengalami penurunan.

“Dua dekade penurunan kriminalitas nasional mungkin telah berakhir. Tindakan-tindakan pelanggaran senjata api khususnya menjalar luas di kota-kota seluruh AS,” tulis WSJ dalam laporannya.

Menurut laporan tersebut, kota-kota besar seperti Baltimore, Milwaukee, St. Louis, Atlanta, Chicago, Los Angeles, hingga New York mengalami peningkatan kejahatan, terutama terkait penggunaan senjata api, yang sangat signifikan.

Baltimore mengalami peningkatan kejahatan hingga sebesar 60% dibandingkan tahun lalu. Dengan insiden 32 penembakan dalam Memorial Day bulan Mei lalu menjadikan bulan tersebut sebagai bulan kejahatan senjata api terburuk selama 15 tahun.

Di Milwaukee, pembunuhan meningkat hingga 180% dibanding tahun lalu. Kemudian di St. Louis pada bulan April lalu kejahatan penembakan mengalami kenaikan 39%, peramokan naik 43%, dan pembunuhan naik 25% dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

“Kejahatan telah mencapai titik paling buruk selama saya alami,” kata pejabat setempat, Alderman Joe Vacarro, dalam dengar pendapat di City Hall bulan Mei lalu, seperti dikutip WSJ.

Selanjutnya, angka pembunuhan di Atlanta mengalami peningkatan 32% bulan lalu. Penembakan di Chicago naik 24% dan pembunuhan naik 17%.

Di Los Angeles, penembakan meningkat 25%. Sedangkan di New York angka pembunuhan naik hingga 13%, dan pelanggaran senjata api meningkat 7%.

Di beberapa wilayah yang lebih kecil angka kejahatan bahkan mencapai beberapa kali lipat. Di kawasan East Harlem, New York, misalnya, penembakan mengalami peningkatan hingga 500%, sedangkan di South Central Los Angeles korban penembakan meningkat hingga 100%.

Sebagai perbandingan, selama 20 tahun sebelumnya hingga pertengahan tahun 2014, angka kejahatan terus mengalami penurunan. Pada semester pertama tahun lalu, misalnya, angka kejahatan secara nasional mengalami penurunan 4,6% dibandingkan periode tahun sebelumnya.

WSJ menyebut penyebab naiknya angka kejahatan itu adalah karena meningkatnya sentimen anti-polisi yang menjalar di negara tersebut setelah terjadinya sejumlah insiden penembakan polisi terhadap warga tak bersenjata.

“Penjelasan paling tepat atas peningkatan kejahatan ini adalah adanya agitasi yang intensif terhadap kepolisian Amerika selama 9 bulan terakhir,” tulis WSJ.

Akibat sentimen tersebut, para polisi enggan untuk melakukan tindakan keras terhadap para penjahat, karena takut akan timbul masalah yang menyeret mereka.

WSJ tidak saja menyebut para aktifis penentang aksi kekerasan polisi, yang membuat polisi enggan bertindak, namun juga sikap dan kebijakan pemerintah terhadap polisi. Misalnya, Jaksa Agung Eric Holder yang menuduh polisi telah bertindak bias terhadap warga kulit hitam.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL