christmast-in-aleppoLiputanIslam.com–“Whoa” demikian tulis seorang blogger saat membaca sebuah artikel dari Reuters yang menceritakan bagaimana kaum Kristiani di Aleppo merayakan perdamaian dan harapan untuk pertama kalinya setelah 5 tahun kota itu dikuasai para teroris.

Sang blogger heran karena tidak biasanya Reuters memberitakan hal yang benar dan positif tentang Suriah. Media-media mainstream selama lima tahun terakhir memang memotret Suriah sebagai negeri tertindas oleh rezim sehingga perlu diselamatkan oleh para “mujahidin” yang mendapat suplai dana dan senjata dari negara-negara Barat dan Teluk.

“Saya sejujurnya tidak pernah berharap melihat Reuters menyajikan artikel yang sesuai fakta, karena selama ini secara terus-menerus semua laporan media Barat selalu berbasis pada kebohongan dan ideologi politik,” tulisnya.

Namun memang demikianlah yang terjadi. Pemberitaan media-media mainstream, yang diikuti oleh media-media terkemuka di Indonesia terlihat bergeser. Misalnya, merdeka.com menulis, “Warga Kristen dan Muslim Gembira Rayakan Natal di Aleppo”, detik.com menulis “Ribuan Warga Aleppo Rayakan Kemenangan Rezim Melawan Pemberontak”. CNN Indonesia masih bernada miring dengan menyebut ‘loyalis Assad’ alih-alih ‘rakyat Aleppo’. Media tersebut menulis berita foto berjudul “Loyalis Assad Rayakan Kemenangan Tentara Suriah di Aleppo”.

Bahkan mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah, Robert Ford terlihat seperti menjilat ludahnya kembali. Ford adalah salah satu arsitek Perang Suriah. Namun dalam wawancaranya denga BBC pekan lalu, dia mengatakan, “Yang harus dilakukan Inggris adalah 3 hal: kita harus berhenti mendukung oposisi yang gagal dan terpecah-pecah, kita harus menghentikan sanksi ekonomi demi membantu rakyat Suriah, dan kita harus bekerja sama dengan Rusia untuk penyelesaian politik.”

musa-kazhimPengamat Timur Tengah, Musa Kazhim, menilai bahwa perubahan sikap media mainstream terjadi berkat kemenangan tentara Suriah di Aleppo.

“Kemenangan Aleppo memang sebuah titik balik. Sebagian media mainstream dunia mulai mengubah narasi dan membocorkan sebagian fakta yang selama ini mereka tutup rapat, ihwal apa yang sebenarnya terjadi di Aleppo khususnya, dan Suriah pada umumnya,” kata Musa.

Menurut Musa, perayaan puluhan ribu warga saat Aleppo direbut kembali oleh tentara Suriah sama sekali tidak bisa ditutup-tutupi. Fakta bahwa mereka sangat bergembira saat kota mereka terbebas dari kepungan teroris yang selama ini memberlakukan aturan “syariat” versi mereka, serta menghalangi bantuan kemanusiaan, menunjukkan dengan jelas pihak mana yang sebenarnya merupakan penjahat.

“Media tidak bisa selalu bohong karena ada kaidah dalam berbohong: tidak mungkin berbohong setiap saat dan kepada setiap orang,” ungkap Musa.

(Baca: Terbongkar Lagi Hoax Aljazeera)

Media mainstream memang punya rekam jejak kebohongan yang amat masif terkait Perang Suriah. BBC sejak awal perang sudah melakukan pembohongan publik dengan menggunakan foto mayat anak-anak Irak (korban tentara AS) dan menyebutnya sebagai korban senjata kimia di Houla (dan menggiring opini bahwa Assad adalah pelakunya). Aljazeera membuat video liputan palsu terkait penyelamatan “korban bom di Aleppo”. Video liputan yang terindikasi kuat palsu juga dilakukan oleh BBC dalam film dokumenternya Saving Syria Children.  Berbagai kebohongan itu dengan cepat diketahui dan diberitakan oleh media-media alternatif.

“Kebohongan media mainstream terkait konflik Suriah juga sudah terlalu tampak, terlalu sering diverifikasi, dan akhirnya mereka tidak punya bahan lagi untuk berbohong,” ujar Musa.

Mungkin karena itulah, di samping juga fakta di lapangan yang menunjukkan Assad di atas angin, membuat sebagian media berbalik arah.(fa)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL