Moskow, LiputanIslam.com–Pasca kemenangan Vladimir Putin dalam pemilu tahun ini, media Barat serentak memberitakan hal-hal negatif, dari sebutan ‘diktator’ kepadanya sampai ‘pemilu yang dicurangi’.

Ketika Putin sibuk mengucapkan terima kasih kepada pendukungnya di atas panggung Red Square, media Barat merilis tulisan-tulisan panjang yang secara bebas mencampurkan laporan faktual dan opini.

“Pemungutan suara tersebut dipenuhi banyak laporan tentang pemilih ganda dan pemilihan suara paksa, tetapi keluhan itu kemungkinan akan sedikit melemahkan Putin,” tulis kantor media Amerika, AP.

“Popularitas pemimpin Rusia itu tetap tinggi meski ia menekan pihak-pihak yang bertentangan pendapat dan … sikapnya yang semakin agresif dalam urusan dunia dan dugaan intervensi pada pemilihan AS tahun 2016,”

Media New York Times menyebut pemilu pada Minggu (18/3/18) itu sebagai “latihan tanpa arti” yang sudah bisa diprediksi.

“Sudah hilang masa-masa Soviet di mana hanya ada satu nama dalam surat suara dan pemenang pemilu selalu mendapat 99 suara. [Pemilu tahun ini] juga mirip, namun, dengan foto Mr. Putin dan slogan kampanyenya, ‘Presiden kuat, Rusia kuat’ memenuhi penjuru negara,” tulis NYT.

Dalam laporan CNN, Putin disebut “berupaya mencari cengkeraman lebih kuat atas kekuasaan,” dan bahwa “dia sudah menjadi pemimpin negara paling lama memerintah sejak diktator Soviet, Joseph Stalin”.

Laporan CNN itu salah kaprah, karena pemimpin yang paling lama memerintah setelah Stalin adalah Leonid Brezhnev.

Sementara, News Corp Australia blak-blakan menyebut Putin sebagai “diktator,” dan pemilu tersebut “tak terelakkan.” (ra/rt)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL