jokowi-prabowoJakarta, LiputanIslam.com—Meskipun kampanye pemilu legislatif telah memasuki masa tenang namun perseteruan antar pendukung capres masih berlanjut melalui di media sosial.

Di Twitter, muncul hashtag #jokowitidaklayak yang menjadi trending topik dunia. Lalu, beberapa jam kemudian muncul hashtag #Prabowotidaklayak menjadi trending topik dunia.

Perseteruan kedua kubu ini semakin meruncing sejak pengusungan Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang memunculkan reaksi emosional dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Prabowo bahkan membuat puisi untuk menyindir Jokowi berjudul “Boleh Bohong Asal Santun.”

Sindiran Prabowo kemudian dibalas oleh sindiran Ikrar Nusa Bakti, peneliti dari LIPI dengan menyatakan, “Boleh Menculik Asal Santun”. Ikrar bahkan juga menulis puisi ‘balasan’ untuk Prabowo dengan judul “Aku Rapopo” yang secara masif disebarluaskan melalui media sosial.

Dua politisi Gerindra-PDIP ikut saling berbalas puisi. Fadli Zon dari Gerindra menulis puisi berjudul Menuju Indonesia Raya, yang berisi sindiran kepada PDIP yang sudah menjual Indosat. Puisi ini kemudian dibalas oleh Budi Ari Setiadi dari PDIP dengan puisinya Karena Aku Melihat Cinta Di Matanya, yang berisi pujian kepada Jokowi yang disebutnya ‘harum keringat rakyat dan bukan golongan penumpah darah”. Berikut ini puisi mereka.

Menuju Indonesia Raya (Fadli Zon)

Indonesia tak akan hebat
Kalau pemimpin tidak amanat
Indonesia tak akan hebat
Kalau koruptor semakin kuat
Indonesia tak akan hebat
Karena kau jual Indosat
Indonesia tak akan hebat
Kalau dirawat kaum khianat
Indonesia tak akan hebat
Karena rakyat belum berdaulat

Indonesia akan bangkit
Kalau pemimpin tidak sakit
Indonesia akan makmur
Kalau koruptor segera dikubur
Indonesia akan jaya
Kalau rakyat berkuasa
Indonesia akan jadi macan Asia
dengan gerakan Indonesia Raya

Karena Aku Melihat Cinta Di Matanya (Budi Ari Setiadi)

Dalam doa-doa nya, ada ketundukkan  yang tak pernah usai
Dalam tarikan nafas nya ada harum keringat rakyat
Dalam senyum nya, ada guratan kerinduan yang belum tersampaikan
Dalam tangannya ada obor yang menghadirkan gelora yang menyala-nyala
Karena aku melihat ada cinta dimatanya
Bila fajar sedang merekah,  tak akan ada yang sanggup menghalau sinar nya.    
Bahkan gerombolan pencuri.
Bahkan gerombolan penumpah-penumpah darah
Bahkan kalaupun mereka melolong seperti Srigala meyerbu negeri…
Tidak akan sanggup menghadang lahirnya cahaya yang membawa terang
Karena aku melihat cinta dimatanya…

Menurut pengamat komunikasi politik, Emrus Sihombing, perseteruan di ruang publik antara kedua partai ini justru membuka peluang bagi lawan politik mereka untuk meraih simpati publik. Karena, situasi ini telah menciptakan persepsi publik bahwa ternyata PDIP-Gerindra sudah melakukan transaksi politik sebelumnya dan beralih ke partai lain. Emrus bahkan memperkirakan, Hanura dan Win-HT-lah yang akan mengambil keuntungan dari konflik ini. (dw/tribunnews.com/merdeka.com/okezone).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*